Jumat, 28 Mei 2010

Keteladanan Sahabat Rasulullah dan Tokoh Penentangnya

Sejarah Pemikiran Pendidikan Islam

Asmaul Husna Kunci Tawakal

Kepribadian Bagi Seorang Muslim

Kepribadian Bagi Seorang Guru
Dr.H.Ridjaiuddin.F.N.,M.Ag Dosen FAI Uhamka Jakarta
Pendidikan harus terus didorong untuk mengembangkan karakter bangsa
Indonesia menjadi bangsa yang kuat sehingga pada gilirannya bangsa Indonesia akan mampu membangun peradaban yang lebih maju dan modem.' Banyak kebijakan dalam pendidikan yang justru kontraproduktif terhadap pengembangan kepribadian siswa. Sebut saja misalnya kebijakan ujian nasional (UN) yang dipercaya dapat menggenjot motivasi siswa untuk belajar supaya iulus UN. Kebijakan tersebut justru mengarah pada praksis pendidikan yang melahirkan peraturan yang berbasis pada model reward and punishment. Model semacam ini hanya akan melahirkan perubahan tingkah laku yang bersifat sementara dan terbatas, tapi hanya sedikit bahkan tidak pengaruh pada pembentukan kepribadian siswa untuk jangka panjang.
Salah satu poin pentinR dari tui!as pendidik adalah membanaun kepribadian anak didik. Maka seorang Guru harus memiliki kepribadian yang menarik, demikian dikatakan oleh seorang Konsultan Komunikasi dan Pengembanaan Pribadi, Leila Mona Ganiem (Kompas, 18 Januari 2010).
Hal demikian tentu saia akan membuat pelaiaran vang disampaikan lebih masuk lebih dipahami oleh anak didiknya. Guru sangat perlu menyamankan, mendorong, beretika, berakhlakul karimah bahkan meniadi teman baai si Murid. Tidak hanva itu, Guru juga harus senang dengan ide-ide baru, ide-ide cemerlang murid. Seorang Guru harus memahami apakah tata cara / etika, akhlak kita dalam mengaiar menarik atau tidak, kalau tidak berusahalah membuat suasana yang menyenangkan murid. Seorang Guru mempunvai kesempatan vang sangat berharga dalam pengembangan kepribadian muridnya.
Dalam pengembangan kepribadian yang matang bagi seorang murid diartikan secara berbeda-beda oleh banyak orang. Hal ini tercermin dari beberapa pendapat berikut
I Aan Hasanah, Pengamat pendidikan dan dosen LJIN Bandung, Pendidikan Berbasis Karakter, Senin,l4 Desember 2009, Media Indonesia




Kepribadian Bagi Seorang Guru
Dr.H.Ridjaiuddin.F.N.,M.Ag Dosen FAI Uhamka Jakarta
Pendidikan harus terus didorong untuk mengembangkan karakter bangsa
Indonesia menjadi bangsa yang kuat sehingga pada gilirannya bangsa Indonesia akan mampu membangun peradaban yang lebih maju dan modem.' Banyak kebijakan dalam pendidikan yang justru kontraproduktif terhadap pengembangan kepribadian siswa. Sebut saja misalnya kebijakan ujian nasional (UN) yang dipercaya dapat menggenjot motivasi siswa untuk belajar supaya iulus UN. Kebijakan tersebut justru mengarah pada praksis pendidikan yang melahirkan peraturan yang berbasis pada model reward and punishment. Model semacam ini hanya akan melahirkan perubahan tingkah laku yang bersifat sementara dan terbatas, tapi hanya sedikit bahkan tidak pengaruh pada pembentukan kepribadian siswa untuk jangka panjang.
Salah satu poin pentinR dari tui!as pendidik adalah membanaun kepribadian anak didik. Maka seorang Guru harus memiliki kepribadian yang menarik, demikian dikatakan oleh seorang Konsultan Komunikasi dan Pengembanaan Pribadi, Leila Mona Ganiem (Kompas, 18 Januari 2010).
Hal demikian tentu saia akan membuat pelaiaran vang disampaikan lebih masuk lebih dipahami oleh anak didiknya. Guru sangat perlu menyamankan, mendorong, beretika, berakhlakul karimah bahkan meniadi teman baai si Murid. Tidak hanva itu, Guru juga harus senang dengan ide-ide baru, ide-ide cemerlang murid. Seorang Guru harus memahami apakah tata cara / etika, akhlak kita dalam mengaiar menarik atau tidak, kalau tidak berusahalah membuat suasana yang menyenangkan murid. Seorang Guru mempunvai kesempatan vang sangat berharga dalam pengembangan kepribadian muridnya.
Dalam pengembangan kepribadian yang matang bagi seorang murid diartikan secara berbeda-beda oleh banyak orang. Hal ini tercermin dari beberapa pendapat berikut
I Aan Hasanah, Pengamat pendidikan dan dosen LJIN Bandung, Pendidikan Berbasis Karakter, Senin,l4 Desember 2009, Media Indonesia
Menjawab pertanyaan Guru dalam kuliah tentang kepribadian di sebuah fakultas psikologi, ada murid yang mengartikan matang kepribadian sebagai sabar, tidak berlebihanini. dalam mengekspresikan emosi, dan pandai mengelola hubungan dengan orang lain.
Ada juga yang mengartikan kemampuan untuk memecahkan berbagai masalah kehidupan dengan bijaksana. Beberapa murid menuniuk pada kemampuan memenuhi tugas-tugas perkembangan masa dewasa dengan baik, seperti memiliki pekerjaan dan filsafat hidup vaniz mantap, kondisi batin yang stabil, dan sebagainva.
Tulisan ini menyajikan kriteria yang lebih utuh mengenai kepribadian yang matang dari seorang sesepuh yang ikut merintis Psikologi, yakni Gordon W. Allport (1897-1967). Hingga saat ini teori-teorinya (tentang kepribadian yang sehat) tetap relevan. Berikut adalah tuiuh kriteria dari Allport tentang sifat-sifat khusus kepribadian yang sehat
1. Perluasan Perasaan Diri Bagi Seorang Guru
Guru hendaknya dapat memperluas pola perasaan diri seorang murid. Ketika seorang murid menjadi matang, ia mengembangkan perhatian-perhatian di luar diri. Tidak cukup sekadar berinteraksi dengan sesuatu atau seseorang di luar diri. Lebih dari itu, ia harus memiliki partisipasi yang langsung dan penuh, yang oleh Allport disebut "partisipasi otentik".
Dalam pandangan Allport, aktivitas yang dilakukan harus cocok dan penting, atau sungguh berarti bagi orang tersebut. Jika menurut kita pekerjaan itu penting, mengerjakan pekerjaan itu sebaik-baiknya akan membuat kita merasa enak, dan berarti kita menjadi partisipan otentik dalam pekeriaan itu. Hal ini akan memberikan kepuasan baRi diri seorang Guru. Orang yang semakin terlibat sepenuhnya dengan berbagai aktivitas, orang, atau ide, ia lebih sehat secara psikologis. Hal ini berlaku bukan hanva untuk pekeriaan, melainkan juga hubungan dengan keluarga dan teman, kegemaran, dan keanggotaan dalam politik, agama,, dan sebagainva.

Sabtu, 13 Februari 2010

KISAH SEGELAS AIR MINUM

KISAH SEGELAS AIR MINUM
Dr.H.Ridjaluddin.F.N.,M.Ag
Harun Al-Rasyid dikenal sebagai khalifah terbaik umat Islam pada masa Bani Abbasiyah. Ia seorang pemimpin yang adil, bijaksana dan disegani baik oleh kawan, maupun lawan. Ia senang dengan ilmu dan dekat kepada ulama. Seringkali ia meminta nasehat pada para ulama di selaruh penjuru Daulat Abbasiyah. Suatu ketika ia merasakan nasehat-nasehat yang diberikan oleh para ulama terkesan klise dan tidak menyentuh. Maka didatangkanlah seorang zahid (orang yang menjaga diri dari keduniaan) ke istana kerajaan untuk diminta nasehat yang bisa meningkatkan kecintaan kepada Allah dan bisa mengendalikan nafsu keduniaannya.
Harun Al-Rasyid berkata, "Berikanlah nasehat terbaik untukku!". Sang Zahid menjawab, "Bukankah sudah banyak sekali nasehat yang pernah Baginda terima dari para ulama maupun ayat-ayat dan hadits Nabi. Harun Al-Rasyid menjawab. "memang sudah banyak nasehat yang aku terima, tapi belum ada nasehat yang bisa menyentuh hatiku agar aku bisa lebih baik dalam beribadah dan menjaga amanah sebagai khalifah". "Baik, kalau begitu", timpal sang zahid, "ambilkan segelas air putih untuk kita minum bersama!" Spontan Khalifah memerintahkan pengawal untuk mengambil dua gelas air minum untuk khalifah dan sang zahid. Segera Harun Al-Rasyid berkata, "marilah kita minum!" Zahid menjawab, "tunggu dulu, saya mau bertanya terlebih dahulu". "Silahkan guru bertanya!", tegas khalifah. Zahid itu bertanya, "wahai khalifah, andaikan baginda sedang berjalan jauh di padang pasir yang tandus dan panas, sementara Baginda tidak membawa air minum, sehingga tenggorokan Baginda sangat kering karena kehausan. Bila tidak segera mendapat minum, baginda akan langsung meninggal dunia. Kemudian lewatlah seorang musafir yang membawa setengah gelas air minum. Dalam keadaan seperti itu, apa yang Tuan berikan sebagai ganti air minum yang sedikit itu?" Khalifah menjawab, "akan saya berikan separuh wilayah kekuasaan saya sebagai ganti air minum tersebut, demi keselamatan saya". Zahid itu menimpali, "baiklah, jawaban Tuan benar sekali!".
Sekarang marilah kita minum bersama. Khalifah dan guru sufi itu pun minum bersama. Setelah minum air setengah gelas, segera sang zahid bertanya kembali, "wahai khalifah, bagaimana jika air yang telah Tuan minum tadi bukannya menghilangkan haus, tapi justeru menyebabkan baginda sakit perut yang sangat parah dan bila tidak segera diobati, baginda akan segera meninggal dunia? Dalam keadaan mendesak tersebut ada seorang tabib yang kebetulan lewat dan membawa setengah gelas air obat, tapi obat itu hanya sedikit dan sulit sekali didapatkan, sehingga tabib itu enggan untuk memberikan kepada Tuan, kecuali Tuan mau membelinya dengan harga yang tinggi. Dengan apakah Baginda akan membeli obat tersebut?" Sang Khalifah menjawab, "walaupun dengan separuh lagi kekuasaan saya, akan saya beli obat itu demi kesembuhan saya!" Guru itupun menjawab, "benar sekali jawaban Tuan". "Kalau begitu, marilah kita minum setengah gelas lagi air ini, ajak sang zahid kepada khalifah.
Khalifah Harun Al-Rasyid kemudian terdiam sejenak dan lalu bertanya, "dari tadi saya menunggu nasehat terbaik untukku! Mana nasehat itu?" Sang guru itu kemudian mengatakan bahwa sebenarnya harga semua kekuasaan Baginda hanyalah segelas air minum. Tidak lebih. Bukankah ini adalah nasehat yang terbaik buat Baginda?

MENGATASI CINTA
Dan kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan yang penuh dengan tipuan belaka, dapat diperkirakan bahwa kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang berebut melahap isi mangkuk. Para sahabat bertanya: "Apakah saat itu jumlah kami sedikit?" Rasulullah bersabda: "Tidak bahkan pada saat itu jumlah kamu amat sangat banyak, tetapi seperti air buih didalam air bah karena kamu tertimpa penyakit wahn." Sahabat bertanya: 'Apakah penyakit wahn itu ya Rasulullah?" Rasulullah bersabda: "Penyakit wahn itu adalah kecintaan yang amat sangat kepada dunia dan takut akan kematian. Cinta dunia merupakan sumber utama segala kesalahan" Runtuhnya kemuliaan sumber dari segala fitnah, dan semua kesalahan adalah karena kita cinta kepada dunia. Pada Rasul tidak ada cinta dunia kecuali cinta terhadap Allah, cinta terhadap kemuliaan.

Rasulullah merupakan contoh seorang pemimpin yang dicintai sampai ke lubuk hati yang paling dalam. Rasul adalah contoh seorang suami yang benar-benar menjadi suri tauladan dan kebanggaan bagi keluarganya. Rasul juga contoh seorang pengusaha yang dititipin dunia, tapi tidak diperbudak oleh dunia yang dimilikinya. Kalau orang sudah mencintai sesuatu .maka dia akan diperbudak oleh apa yang dicintainya.

Orang yang sudah cinta terhadap dunia, akan sombong, dengki, serakah dan berusaha dengan segala cara untuk mencapai segala keinginannya, oleh karena itu yakinlah bahwa dunia itu total milik Allah. Segala sesuatu yang kita miliki baik sedikit maupun banyak semuanya milik Allah. Dalam mencari rizki janganlah mempergunakan kelicikan karena dengan kelicikan atau tidak dengan kelicikan datangnya tetap dari Allah.

ZUHUD
Ada empat tipe manusia berkaitan dengan harta dan gaya hidupnya : Pertama, orang berharta dan memperlihatkan hartanya. Orang seperti ini biasanya mewah gaya hidupnya, untung perilakunya ini masih sesuai dengan penghasilannya, sehingga secara finansial sebenarnya tidak terlalu bermasalah. Hanya saja, ia akan menjadi hina kalau bersikap sombong dan merendahkan orang lain yang dianggap tak selevel dengan dia. Apalagi kalau bersikap kikir dan tidak mau membayar zakat atau mengeluarkan sedekah Sebaliknya, ia akan terangkat kemuliaannya dengan kekayaannya itu jikalau ia rendah hati dan dermawan.

Kedua, orang yang tidak berharta banyak, tapi ingin kelihatan berharta. Gaya hidup mewahnya sebenarnya diluar kemampuannya, hal itu karena ia ingin selalu tampil lebih daripada kenyataan. Tidaklah aneh bila keadaan finansialnya lebih besar pasak dari pada tiang. Nampaknya, orang seperti ini benar-bernar tahu seni menyiksa diri. Hidupnya amat menderita, dan sudah barang tentu ia menjadi hina dan bahkan menjadi bahan tertawaan orang lain yang mengetahui keadaan yang sebenarnya.

Ketiga, orang tak berharta tapi berhasil hidup bersahaja. Orang seperti ini tidak terlalu pening dalam menjalani hidup karena tak tersiksa oleh keinginan, tak ruwet oleh pujian dan penilaian orang lain, kebutuhan hidupnya pun sederhana saja. Dia akan hina kalau menjadi beban dengan menjadi peminta-minta yang tidak tahu diri. Namun tetap juga berpeluang menjadi mulia jikalau sangat menjaga kehormatan, dirinya dengan tidak menunjukan berharap dikasihani, tak menunjukan kemiskinannya, tegar, dan memiliki harga diri.

Keempat, orang yang berharta tapi hidup bersahaja. Inilah orang yang mulia dan memiliki keutamaan. Dia mampu membeli apapun yang dia inginkan namun berhasil menahan dirinya untuk hidup seperlunya. Dampaknya, hidupnya tidak berbiaya tinggi, tidak menjadi bahan iri dengki orang lain, dan tertutup peluang menjadi sombong, serta takabur plus riya. Dan yang lebih menawan akan menjadi cuntoh kebaikan yang tidak habis-habisnya untuk menjadi bahan pembicaraan. Memang aneh tapi nyata jika orang yang berkecukupan harta tapi mampu hidup bersahaja (tentu tanpa kikir). Sungguh ia akan punya pesona kemuliaan tersendiri. Pribadinya yang lebih kaya dan lebih berharga dibanding seluruh harta yang dimilikinya, subhanallaah

Perlu kita pahami bahwa zuhud terhadap dunia bukan berarti tidak mempunyai hal-ha1 yang bersifat dunia, semacam harta benda dan kekayaan lainnya, melainkan kita lebih yakin dengan apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tangan makhluk. Bagi orang yang zuhud terhadap dunia, sebanyak apapun harta yang dimiliki, sama sekali tidak akan membuat hatinya merasa tenteram, karena ketenteraman yang hakiki adalah ketika kita yakin dengan janji dan jaminan Allah.

Andaikata kita merasa lebih tenteram dengan sejumlah tabungan di bank, saham di sejumlah perusahaan ternama, real estate investasi di sejumlah kompleks perumahan mewah, atau sejumlah perusahaan multi nasional yang dimiliki, maka ini berarti kita belum zuhud. Seberapa besar pun uang tabungan kita, seberapa banyak saham pun yang dimiliki, sebanyak apapun asset yang dikuasai, seharusnya kita tidak lebih merasa tenteram dengan jaminan mereka atau siapapun. Karena, semua itu tidak akan datang kepada kita, kecuali ijin Allah. Dia-lah Maha Pemilik apapun yang ada di dunia ini.

Begitulah. Orang yang zuhud terhadap dunia melihat apapun yang dimilikinya tidak menjadi jaminan . Ia lebih suka dengan jaminan Allah karena walaupun tidak tampak dan tidak tertulis, tetapi Dia Mahatahu akan segala kebutuhan kita, dan bahkan, lebih tahu dari kita sendiri. Ada dan tiadanya dunia di sisi kita hendaknya jangan sampai menggoyahkan batin. Karenanya, mulail:ah melihat dunia ini dengan sangat biasa-biasa saja. Adanya tidak membuat bangga, tiadanya tidak membuat sengsara. Seperti halnya seorang tukang parkir. Ya tukang parkir. Ada hal yang menarik untuk diperhatikaii sebagai perumpamaan dari tukang parkir. Mengapa mereka tidak menjadi sombong padahal begitu banyak dan beraneka ragam jenis mobil yang ada di pelataran parkirnya? Bahkan, walaupun berganti-ganti setiap saat dengan yang lebih bagus ataupun dengan yang lebih sederhana sekalipun, tidak mempergaruhi kepribadiannya ? Dia senantiasa bersikap biasa-biasa saja.

Luar biasa tukang parkir ini. Jarang ada tukang parkir yang petantang petenteng memamerkan mobil-mobil yang ada di lahan parkirnya. Lain waktu, ketika mobil-mobil itu satu persatu meninggalkan halaman parkirnya, bahkan sampai kosong ludes sama sekali, tidak menjadikan ia stress. Kenapa sampai demikian? tiada lain, karena tukang parkir ini tidak merasa merugi, melainkan merasa dititipi. Ini rumusnya.

Seharusnya begitulah sikap kita akan duiua ini. Punya harta melimpah, deposito jutaan rupiah, mobil. keluaran terbaru paling mewah, tidak menjadi sombong sikap kita karenanya. Begitu juga sebaliknya, ketika harta diambil, jabatan dicopot, mobil dicuri, tidak menjadi stress dan putus asa Semuanva biasa-biasa saja. Bukankah semuanya hanya titipan saja ? Suka-suka yang menitipkan, mau diambil sampai habis sama sekalipun, silahkan saja; persoalannya kita hanya dititipi. Rasulullah Saw dalam hal ini beliau bersabda,

"Melakukan zuhud dalam kehidupan dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula dengan memboroskan kekayaan. Zuhud terhadap kehidupan dunia itu ialah tidak menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti dari pada apa yang ada pada Allah. Dan hendaknya engkau bergembira memperoleh pahala musibah yang sedang menimpamu walaupun musibah itu akan tetap menimpamu." (HR Ahmad).

Ikhlas Kunci Amal Yang Diterima Allah

IKHLAS KUNCI
AMAL YANG DITERIMA ALLAH.
Dr.H.Ridjaluddin.F.N.,M.Ag
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata ikhlas, apakah ikhlas itu? Orang yang ikhlas adalah orang yang tidak menyertakan kepentingan pribadi atau imbalan duniawi dari apa yang dapat ia lakukan. Konsentrasi orang yang ikhlas cuma satu, yaitu bagaimana agar apa yang dilakukannya diterima oleh Allah Swt Jadi ketika sedang memasukan uang ke dalam kotak infaq, maka fokus pikiran kita tidak ke kiri dan ke kanan, tapi pikiran kita terfokus bagaimana agar uang yang dinafkahkan itu diterima di sisi Allah.
Ikhlas terletak pada niat hati, karena niat adalah pengikat amal, orang yang tak pernah memperhatikan niatnya dalam melakukan sedekah, yang mana setiap perbuatannya selalu didasarkan pada pengharapan ingin dipuji, diketahui orang lain maka siap-siaplah untuk mendapatkan kekecewaan bilamana apa yang diharapkannya tidak kunjung datang.
Oleh karena itu, jangan terjebak oleh rekayasa-rekayasa. Allah sama sekali tidak membutuhkan rekayasa apapun dari manusia. Allah Maha Tahu segala lintasan hati, Maha Tahu segalanya! Makin bening, makin bersih, semuanya semata-mata karena Allah, maka kekuatan Allah yang akan menolong segalanya.
Menurut Imam Ali, Orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amal perbuatannya diterima oleh Allah. Orang yang ikhlas pada setiap amal perbuatannya ia akan senantiasa mendapatkan ketentraman jiwa dan ketenangan bathin karena ia tidak diperbudak oleh penantian untuk mendapatkan pujian, penghargaan dan imbalan semua yang ia kerjakan ikhlas semata karena mengharapkan ridho dari Allah.
Sungguh akan nikmat bila bergaul dengan seorang hamba yang ikhlas. Setiap kata-katanya tidak akan bagai pisau yang akan mengiris hati. Perilakunya pun tidak akan menyudutkan dan menyempitkan diri. Tidak usah heran jikalau orang ikhlas itu punya daya gugah dan daya ubah yang begitu dahsyat.
Ulama Aidh Al-Qarni menuliskan dalam bukunya "La Tahzan "Allah menciptakan setiap hambanya agar selalu mengingat-Nya, dan Dia menganugrahkan rezeki kepada setiap makhluk ciptaan-Nya agar mereka bersyukur kepada¬Nya. Namun, mereka justru banyak yang menyembah dan bersyukur kepada selain Dia”.
Anda tak perlu terkejut manakala menghadiahkan sebatang pena kepada orang bebal, lalu orang itu memakai pena itu untuk menulis cemoohan kepada anda. Dan anda tak usah kaget, bila orang yang anda beri tongkat untuk menggiring domba gembalaannya justru memukulkan tongkat itu ke kepada anda. Karena itu, siapa saja yang kebaikannya diabaikan dan dilecehkan oleh orang-orang yang menyalahi fitrahnya, sudah seyogyanya menghadapi semua itu dengan kepala dingin. Dan, ketenangan seperti itu akan mendatangkan balasan pahala dari zat yang perbendaharaan-Nya tidak pernah habis dan sirna.
Itu semua adaIah watak dasar manusia yang selalu mengingkari dan tak pernah bersyukur kepada penciptanya sendiri Yang Maha Agung nan Mulia. Begitulah, kepada Tuhannya saja mereka berani membangkang dan mengingkari, maka apalagi kepada saya dan anda. Ajakan ini bukan untuk mengajak kita semua untuk meninggalkan kebaikan yang telah kita lakukan selama ini, atau agar kita sama sekali tidak berbuat baik kepada orang lain. Ajakan ini hanya ingin agar kita tak goyah dan terpengaruh sedikitpun oleh kekejian dan pengingkaran atas semua kebaikan yang telah kita perbuat. Berbuatlah kebaikan hanya demi Allah semata, maka kita akan menguasai keadaan, tak akan pernah merasa terancam oleh perlakuan orang lain. Kita harus bersyukur kepada Allah karena dapat berbuat baik ketika orang-orang disekitar kita berbuat jahat kepada kita. Dan, ketahuilah bahwa tangan di atas itu lebih baik dari tangan di bawah. Allah berfirrnan dalam surat Al-Insaan (76) ayat : 9
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللهِ لاَنُرِيدُ مِنكُمْ جَزَآءً وَلاَشُكُورًا
"Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak mengharapkan balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih ".
Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut :
Tatkala Allah menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptkana gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?" Allah menjawab, "Ada, yaitu besi" (Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi).

Para malaikat pun kembali bertanya, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Nya yang lebih kuat dari pada besi'?" Allah menjawab, "Ada, yaitu api" (Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api). Bertanya kembali para malaikat, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?" Allah menjawab, "Ada, yaitu air" (Api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).

"Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?" Kembali bertanya para malaikat. Allah yang Maha Sempurna menjawab, "Ada, yaitu angin" (Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat). Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, "Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?" Allah yang menjawab,

"Ada, yaitu amal anak Adam (manusia) yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya."

Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain. Ikhlas dapat menumbuhkan sikap giat beramal dan bekerja lebih baik, tidak pandang apakah pekerjaanya dihargai orang lain atau tidak. Orang ikhlas dijauhkan dari perasaan dan hati yang sesat serta dijauhkan dari godaan setan, sebagaimana diterangkan dalam surat Al-Hijr (15) ayat 39 – 40 ;

قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغْوَيْتَنِي لأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي اْلأَرْضِ وَلأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
{} إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

“Iblis berkata, ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik ( perbuatan maksiat ) di muka bumi dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka."

Allah menjanjikan bagi hamba-hamba-Nya yang beramal sholeh dan mampu mengendalikan dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, ikhlas hanya mengharap ridho Allah, maka Allah akan memberikan kepadanya syurga yang didalamnya mengalir sungai-sungai dan mereka kekal di dalamnya. Sebagaimana dalam firman Allah dalam surat Ali Imran (03) ayat 136.
أُوْلاَئِكَ جَزَآؤُهُم مَّغْفِرَةُُ مِّن رَّبِّهِمْ وَجَنَّاتُُ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ
" Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan syurga yang mengalir sungai ¬sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal."
Perbuatan baik itu laksana wewangian yang tidak hanya mendatangkan manfaat bagi pemakainya, tetapi juga orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan manfaat psikologis dari kebajikan itu terasa seperti obat-obat manjur yang tersedia di apotik orang-orang yang berhati baik dan bersih. Hidup ini adalah seni bagaimana membuat sesuatu. Dan seni harus dipelajari serta ditekuni. Maka sangatlah baik bila manusia berusaha keras dan penuh kesungguhan mau belajar tentang bagaimana menghasilkan bunga-bunga, semerbak harum wewangian, dan kecintaan di dalam hidupnya.
Tidak ada yang membuat jiwa dan wajah menjadi demikian muram selain keputusasaan. Maka, jika kita menginginkan senyuman, tersenyumlah terlebih dahulu dan perangilah keputusasaannya. Menebar senyum manis kepada orang-orang yang "miskin akhlak" merupakan sedekah jariyah. Ini tersirat dalam tuntunan akhlak yang berbunyi ",
“Meski engkau hanya menemui saudaramu dengan wajah berseri." ( Al-Hadits )
Tanamkan rasa ikhlas dalam diri kita masing-masing karena tanpa rasa ikhlas maka sia ¬sialah semua amal perbuatan kita. Jangan jadikan dunia sebagai pusat perhatian, karena sesunguhnya dunia hanyalah sebuah persinggahan dari sebuah perjalanan yang panjang, perbanyak amal sholeh (dengan ikhlas) selama hidup di dunia ini sebagai bekal di hari akhirat nanti.

Bila Fitnah Menghadang

BILA FITNAH
DATANG MENGHADANG
Dr.H. Ridjaluddin.FN.,M.Ag

Permasalahan pelik yang sedang dihadapi umat Islam saat ini yaitu seputar “fitnah”. Sebahagian Ulama mengartikan fitnah dengan : Memasukan emas ke dalam tungku api untuk mengetahui kadar keaslian emas tersebut, sebagaimana yang telah dikemukakan ar-Raghib .

Ada juga yang berpendapat, fitnah artinya ujian, sebagaimana dikatakan Ibnul ‘Arabi, Tetapi yang dimaksud fitnah di sini adalah pendapat yang kedua. Rasulullah telah memperingatkan umatnya agar senantiasa berhati-hati dan siap siaga menghadapi fitnah, mengingat begitu besar dan dahsyatnya fitnah. Beliau telah mengilustrasikan dalam hadits Rasulullah Saw beliau mengatakan yang artinya : .

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berlomba-lombalah kalian dengan amalan (yang baik) sebelum datangnya potongan malam kelam, seorang laki-laki yang di pagi hari dalam keadaan mukmin tetapi di sore harinya menjadi kafir dan yang di sore hari mukmin tetapi di pagi harinya kafir, dia menjual agamanya dengan harga dunia yang tidak seberapa nilainya.” (HR. Muslim).

Nyatalah bagi kita dahsyatnya fitnah ini yang datang bagaikan kegelapan malam tanpa satupun cahaya menyinari, membuat orang kebingungan tidak tahu lagi kemana dia lari, dari pintu mana dia akan keluar dan terbebas darinya. Rasulullah dengan jelas mengatakan seorang yang pagi harinya mukmin, di sore harinya menjadi kafir. Demikian juga di sore harinya menjadi mukmin tapi di pagi harinya kafir. Itu semua karena dia telah menjual agamanya dengan harga dunia yang tidak bernilai sama sekali (di hadapan Allah). Dia menukar agamanya dengan mie instan. Dia rela menjual agamanya dengan jabatan yang tidak langgeng. Subhanallah …!
Seakan-akan agama ini tidak berharga sama sekali, dalam satu hari seseorang dibuat murtad (keluar) dari agamanya Islam. Dalam riwayat lain disebutkan seorang laki-laki dari suatu kaum datang kepada Rasulullah Saw ; untuk mengingkari putusan beliau dalam masalah pembagian harta rampasan perang dari negeri Yaman. Maka Rasulullah bersabda:

Sesungguhnya akan datang dari sulbi orang ini (keturunannya), suatu kaum yang membaca al-Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan. Mereka keluar dari Islam laksana anak panah keluar dari sasarannya. Mereka membunuh orang-orang Islam dan membiarkan penyembah berhala”. (Hadits Riwayat Imam Bukhari ).

Fitnah ada beberapa macam di antaranya;

1. Fitnah Yahudi dan Nashrani; Fitnah yang dihembuskan musuh-musuh Allah, Yahudi dan Nasrani, senantiasa ada di sepanjang zaman. Hal ini telah disinyalir dalam al-Qur’an, Allah berfirman: .

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha hingga kalian mengikuti agama mereka, Katakanlah “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sungguh jika engkau mengikuti kemauan mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu“. (QS. Al-Baqarah ayat 120)

Fitnah ini akan terus-menerus menguji kaum muslimin kapan saja dan di mana pun mereka berada. Tujuan mereka adalah menceburkan kaum muslimin dalam kubangan kehinaan, menjauhkan dari al-Qur’an dan as-Sunnah, serta menanamkan dalam benak kaum muslimin pemikiran-pemikiran dan gaya hidup yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. .

Tidaklah mengherankan kalau sebagian kaum muslimin yang tidak berpijak di atas dasar (aqidah) yang kuat akan terombang-ambing oleh derasnya fitnah ini. Suatu contoh, kaum muslimin saat ini telah mengikuti langkah-langkah Yahudi yang dikemas dalam bentuk modernisasi. Salah satunya adalah fashion show (gaya pemakaian) yang tidak senonoh.

Seakan-akan kita dipaksa mengikuti trend (gaya) yang ada dengan dalih modernisasi (kemajuan). Sekali saja kita coba melawan arus, dengan berupaya tetap tegar di atas agama Allah dengan mengenakan pakaian Islami (pakaian yang menutup aurat), spontan kita akan dijuluki norak, kampungan, ketinggalan zaman dan lain sebagainya.
Sudah banyak orang Islam yang tidak memiliki pendirian menjadi korban, mereka terseret arus modernisasi buatan orang kafir. Rasulullah bersabda yang artinya sebagai berikut
“Sesungguhnya kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, setapak demi setapak, sampai sekiranya mereka masuk pada lubang biawak pun pastilah kalian akan mengikuti mereka. Kami (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu dari golongan Yahudi dan Nasrani?” Rasulullah menjawab, “Kalau bukan mereka, siapa lagi?” (Hadits Riwayat Imam Bukhari ). .

Hadits ini memberikan gambaran, begitu rentannya kondisi kaum muslimin di akhir zaman. Umat Islam telah mengikuti langkah Yahudi dan Nasrani. Yang lebih tragis lagi, mereka menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai kiblat dalam segala aspek kehidupan. Subhanallah, kita berlindung kepada Allah dari makar serta tipu daya musuh-musuh Allah.

2. Fitnah Kebodohan & Kemaksiatan, Rasulullah bersabda Sesungguhnya mendekati datangnya hari kiamat benar-benar ada hari yang di dalamnya tumbuh kebodohan, diangkatnya ilmu, dan banyaknya pembunuhan. (HR. Bukhari 063).

Faedah yang dapat kita ambil dari hadits di atas antara lain; Pertama, tatkala ilmu telah diangkat dengan diwafatkannya para ulama. Dengan berkurangnya ulama itulah akan bermunculan orang-orang bodoh yang mengaku ulama. Kedua, sebagian ulama memberikan makna pada hadits di atas dengan banyaknya pembunuhan, ikhtilath, fitnah di akhir zaman, banyaknya kedustaan, dan tiadanya perhatian serius terhadap suatuhal.
3. Fitnah diabaikannya amanah : Orang yang memiliki akal sehat tentu tidak akan mengingkari pentingnya sebuah amanah. Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhabarkan,

Akan datang pada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan, dibenarkan orang yang berdusta dan didustakan orang yang jujur, dipercaya orang yang khianat dan dikhianati orang yang amanah, serta orang-orang “ruwaibidhah” telah berani angkat suara. Ditanyakan (kepada Rasulullah), “Siapakah ruwaibidhah itu?”Beliau menjawab, “Orang yang tidak tahu apa-apa tetapi berani berbicara masalah umat.” (HR. Ibnu Majah)
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika amanah telah disia-siakan meka tunggulah hari kiamat. Abu Hurairah bertanya, “Bagaimana (bentuk) menyia-nyiakan amanah?” Beliau menjawab, “Jika suatu perkara diserahkan kepada bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya.” (HR. Bukhari ) .

Cukuplah bagi kita dua hadits di atas untuk mengetahui bagaimana fitnah dalam bentuk amanah ini telah disia-siakan begitu saja. Dan masih banyak lagi fitnah yang belum kami sebutkan mengingat terbatasnya waktu. Kita memohon kepada Allah agar dijadikan hamba-hamba yang dapat memikul serta mengemban amanah ini dengan baik.

Setelah kita sebutkan pada khutbah pertama, dahsyatnya fitnah yang menerpa kaum muslimin, pada khutbah kedua ini akan kita paparkan beberapa solusi atas masalah tersebut, di antaranya:
1.Kembali menelaah serta mempelajari agama kta, yang sudah banyak dilupakan orang.
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عن ابن عمر رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِاْلعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزّرْعِ وَتَرَكُمُ الْجِهَادَ سَلّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاّ لاَيَنْزِعُهُ حَتّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jika kalian telah melakukan jual beli sistim ‘ienah (salah satu jual beli riba), kalian disibukkan oleh ternak dan ladang kalian, serta kalian telah meninggalkan jihad, maka Alloh akan timpakan pada kalian suatu kehinaan. Dan Alloh tidak akan mencabut kehinaan itu hingga kalian kembali ke agama kalian”. (HR. Abu Dawud 3458 dan dishahihkan al-Albani dalam silsilah Ahadits Shahihah 11).

2. Berpegang kepada jama’ah kaum muslimin, sebagaimana dikemukakan dalam potongan hadits Hudzaifah bin al-Yaman radhiallahu ‘anhu:

قلت : فما تأمرني إنّ أدركني ذلك؟ قال: تلزم جماعة المسلمين وإمامهم. قلت: فإن لم يكن لكم جماعة ولا إمام؟ قال: فاعتزلي تلك الفراق كلّها ولو تعضّ بأصل شجرة حتّى يدركك الموت وأنت على ذلك
Saya (Hudzaifah) berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan jika aku mendapati kekeruhan tersebut?” Beliau berkata, “Pegang erat-erat jama’ah kaum muslimin dari kepemimpinan mereka.” Saya berkata, “Bagaimana jika mereka tidak memiliki jama’ah dan kepemimpinan?” Beliau berkata, “Tinggalkan seluruh kelompok yang ada walaupun engkau akan menggigit akar pohon sampai kematian datang menjemputmu dan kamu tetap di atas itu.” (HR. Muslim 1847)

Nyatalah bagi kita, wahai jama’ah kaum muslimin, hanya dengan kembali kepada agama Alloh –dengan menaati perintah Alloh, mengikuti sunnah Nabinya, serta berpegang kepada jama’ah kaum muslimin- insya Alloh, kita akan selamat dari fitnah ini. Dan akhirnya, marilah kita memohon kepada Alloh agar diberi kekuatan menjalankan agama Alloh dan diselamatkan dari gelombang fitnah ini. Amiin ya Rabbal ‘aalamin.

اَللّهُمّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنًاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنّكَ سَمِيْعٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
اللهمّ إِنّا نَسْأَلُكَ أَنْ تُْجِنّيْنَا الْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَأَنْ تَرْزُقَ الْمُسْلِمِيْنَ صَلاَحًا فِي أَنْفُسِهِمْ وَفِي وُلاَتِهِمْ وَأَنْ تَدُلّهُمْ عَلَى الرّشَادِ وَأَنْ تَبَاعَدَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ أَهْلِ الزيع وَالْفَسَادِ يَارَبّ الْعَالَمِيْنَ
وَأَخِيْرُ دَعْوَنَا وَالْحَمْدُ للهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ


Setelah kita sebutkan pada khutbah pertama, dahsyatnya fitnah yang menerpa kaum muslimin, pada khutbah kedua ini akan kita paparkan beberapa solusi atas masalah tersebut, di antaranya:
1.Kembali menelaah serta mempelajari agama kta, yang sudah banyak dilupakan orang.
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عن ابن عمر رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِاْلعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزّرْعِ وَتَرَكُمُ الْجِهَادَ سَلّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاّ لاَيَنْزِعُهُ حَتّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ
Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jika kalian telah melakukan jual beli sistim ‘ienah (salah satu jual beli riba), kalian disibukkan oleh ternak dan ladang kalian, serta kalian telah meninggalkan jihad, maka Alloh akan timpakan pada kalian suatu kehinaan. Dan Alloh tidak akan mencabut kehinaan itu hingga kalian kembali ke agama kalian”. (HR. Abu Dawud 3458 dan dishahihkan al-Albani dalam silsilah Ahadits Shahihah 11).

2. Berpegang kepada jama’ah kaum muslimin, sebagaimana dikemukakan dalam potongan hadits Hudzaifah bin al-Yaman radhiallahu ‘anhu:

قلت : فما تأمرني إنّ أدركني ذلك؟ قال: تلزم جماعة المسلمين وإمامهم. قلت: فإن لم يكن لكم جماعة ولا إمام؟ قال: فاعتزلي تلك الفراق كلّها ولو تعضّ بأصل شجرة حتّى يدركك الموت وأنت على ذلك
Saya (Hudzaifah) berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan jika aku mendapati kekeruhan tersebut?” Beliau berkata, “Pegang erat-erat jama’ah kaum muslimin dari kepemimpinan mereka.” Saya berkata, “Bagaimana jika mereka tidak memiliki jama’ah dan kepemimpinan?” Beliau berkata, “Tinggalkan seluruh kelompok yang ada walaupun engkau akan menggigit akar pohon sampai kematian datang menjemputmu dan kamu tetap di atas itu.” (HR. Muslim 1847)

Nyatalah bagi kita, wahai jama’ah kaum muslimin, hanya dengan kembali kepada agama Alloh –dengan menaati perintah Alloh, mengikuti sunnah Nabinya, serta berpegang kepada jama’ah kaum muslimin- insya Alloh, kita akan selamat dari fitnah ini. Dan akhirnya, marilah kita memohon kepada Alloh agar diberi kekuatan menjalankan agama Alloh dan diselamatkan dari gelombang fitnah ini. Amiin ya Rabbal ‘aalamin.

اَللّهُمّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنًاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنّكَ سَمِيْعٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
اللهمّ إِنّا نَسْأَلُكَ أَنْ تُْجِنّيْنَا الْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَأَنْ تَرْزُقَ الْمُسْلِمِيْنَ صَلاَحًا فِي أَنْفُسِهِمْ وَفِي وُلاَتِهِمْ وَأَنْ تَدُلّهُمْ عَلَى الرّشَادِ وَأَنْ تَبَاعَدَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ أَهْلِ الزيع وَالْفَسَادِ يَارَبّ الْعَالَمِيْنَ
وَأَخِيْرُ دَعْوَنَا وَالْحَمْدُ للهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ