Kamis, 24 September 2009

Sekilas Pandangan M.Abduh tokoh pembaharu Islam tentang Filsafat Pendidikan Islam

Pandangan Filsafat Pendidikan Islam
Menurut Muhammad Abduh

Pandangan dari sudut Kurikulum
Dalam pemikiran Ahmad Tafsir sarjana muslim dalam tulisannya menyatakan bahwa “al-Qur’an dan hadits bukanlah sains, buku filsafat, atau buku mistik Al-Qur’an berisi pokok-pokok ajaran. Oleh karena itu, Anda akan sia-sia mencari teori kurikulum dalam al-Qur'an atau hadits".

Selanjutnya Ahmad Tafsir berpendapat bahwa sampai hari ini ahli pendidikan Islam belum menulis teori kurikulum secara rinci dan sistematik sebagaimana yang dilakukan oleh penulis-penulis di negeri Barat. Walaupun demikian bukan berarti tidak didapatkan para ahli pendidikan Islam yang mempunyai wawasan tentang apa itu kurikulum. Hal itu bisa dilihat ketika mereka menyusun program-program pendidikan Islam untuk sekolah, dan madrasahnya, kita telah menemukan susunan mata pelajaran dan kegiatan yang menggambarkan wawasan mereka tentang kurikulum. Selanjutnya, Muhammad Abduh sebagai salah satu tokoh utama dan mempunyai pandangan yang luas tentang agama Islam akan kita lihat pemikirannya tentang apa itu kurikulum. Secara tradisional bahwa kurikulum diartikan sebagai sebuah mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Adapun menurut pandangan para pakar modern, kurikulum adalah semua pengalaman belajar.

Dalam pembahasan ini, kurikulum yang dimaksud adalah mata pelajaran yang diajarkan di sekolah (kurikulum secara tradisional). Pembahasan dalam bab ini, akan dipusatkan pemikiran tentang prinsip-prinsip kurikulum, kurikulum sekolah dasar, sekolah menengah, dan tingkat atas.

1. Kewajiban Menuntut Ilmu
Allah SWT sangat luas ilmu-Nya dan tidak mungkin manusia untuk dapat mencapainya semuanya. Allah menantang kepada manusia dengan firman-Nya :

“Kalau sekiranya pohon-pohon di dunia ini dijadikan penanya dan lautan dijadikan tintanya, tidaklah mungkin dapat tertulis semua kalimat Allah”

Dalam masalah ini, Muhammad Abduh berkomentar, "ilmu itu banyak dan luas sedangkan umur manusia itu pendek, maka tidak mungkin bagi seseorang untuk menguasainya". Jika dilihat kaidah dalam usul fiqih menggatakan

"Ma la yudraku kulluhu la yutraku kulluhu” Artinya: Apa yang tidak bisa diketahui semuanya, maka jangan ia tinggalkan semuanya.

Karena tidak mungkin bagi manusia untuk menguasai ilmu Allah semuanya, maka Muhammad Abduh membagi ilmu kepada ilmu yang wajib ‘ain [personal manusia] dan wajib kifayah [cukup sebagian saja]. Ilmu yang wajib ‘ain adalah ilmu yang harus dimiliki setiap individu dari umat, baik pria maupun wanita seperti ilmu tentang akidah yang benar, akhlak yang baik, pensucian jiwa [tasauf], cara beribadah dan pengetahuan haram dan halal [jumlah dari ilmu yang wajib ‘ain adalah tidak banyak jumlahnya]. Adapun ilmu yang wajib kifayah yang lebih banyak jumlahnya dari ilmu yang wajib ‘ain adalah ilmu yang dituntut sebagaian umat manusia untuk kemaslahatan dan kesejahteraan umat bersama. Jika tidak ada yang menuntut ilmu itu sebagian perwakilan dari umat, maka manusia akan diazab oleh Allah. Dosa sosial bisa diampuni oleh Allah.

Ilmu yang wajib kifayah [fardhu kifayah], khususnya ilmu-ilmu duniawiyah selalu berkembang sesuai dengan perkembangan zaman seperti ilmu bumi [geografi], dimana pada masa Daulat Umayyah dan Abbasiyah mereka menikmati kekayaan alam untuk berpoyah-poyah tanpa berfaedah ilmu falak pada masa Muhammad Abduh hidup berkembang dan sangat dibutuhkan.

Gambaran bagaimana perlunya ilmu-ilmu fardhu kifayah menurut Muhammad Abduh dapat dilihat dari komentarnya yang dikutip oleh seorng yang hali dalam bidang pendidikan Islam Muhammad Imarah. Bahwa Muhammad Abduh mengatakan,”Ilmu yang harus dihidupkan adalah ilmu empiris (al-malhuzh] bukan ilmu normatif (al-mahfuzh]. Selanjutnya Muhammad Imarah menambahkan bahwa yang dimaksud adalah menghidupkan ilmu-ilmu empiris di samping ilmu-ilmu agama.

Dari penjelasannya tersebut di atas, dapat dipahami bahwa pada masa hidup Muhammad Abduh ilmu-ilmu Islam telah berkembang, bahkan secara implisit dianggap sudah mencapai puncak kesempurnaan. Yang demikian itu dapat dilihat dari sikap umat Islam terhadap taklid. Adapun ilmu-ilmu empiris yang berkembang di Barat masa itu, kurang mendapat tempat di mata masyarakat Islam, barangkali itulah sebabnya Muhammad Abduh berpendapat bahwa ilmu yang penting untuk dikembangkan ilmu-ilmu malhuzh. Para Pembaharu dan reformis dalam Islam selain Muhammad Abduh yang memberi gambaran dan apresiasi terhadap peradaban yang datang dari Barat, di antaranya Syekh Muhammad Ali Pasya di Mesir, Syekh Mustafa Kemal Atatur di Turki, dan Syekh Sayyed Amir Ali di India. Di antara tiga tokoh reformis dalam Islam tersebut, pemikiran Syekh Sayyed Amir Ali-lah yang mendekati pada pemikiran Muhammad Abduh. Sedangkan pemikiran Syekh Muhammad Ali Pasya dan Syekh Mustafa Kemal Atatur masih terkesan bersifat sekuler. [pendangkalan terhadap agama]

Lebih lanjut Muhammad Abduh berpendapat bahwa semua ilmu harus dapat menjadikan manusia berbahagia dan sejahtera. Oleh karena itu, menurutnya kurikulum harus berhubungan erat dengan keadaan hidup manusia, sehingga ilmu –ilmu tersebut dapat diaplikatifkan dalam kehidupan yang berkembang. Ilmu yang dibutuhkan untuk mendapatkan kebahagiaan itu ialah ilmu yang bisa mengenal diri anda, siapa anda,dan bersama siapa. Menurut Syekh Rasyid Ridha, kalimat tersebut sangat tinggi maknanya dan hanya bisa dipahami oleh orang yang pintar. Syekh Rasyid Ridha menafsirkan kalimat Muhammad Abduh tentang ilmu yang dibutuhkan sebagai berikut:

Ilmu Usuluddin, Ilmu Akhlak yang dibantu oleh filsafat akal dan psikologi, Ilmu fiqih,tentang haram, halal, dan ibadah yang kemudian disebut orang Turki ilmu hal. Sosiologi dan Antropologi, Geografi, Ilmu Ekonomi, Ilmu tadbir al-manzil [tehnik sipil, design, interior, dan semuanya yang berhubungan dengan rumah]. Sejarah manusia, agama, negara, umum dan sebagainya. ilmu berhitung, ilmu kesehatan, bahasa nasional, dan kaligrafi.

Kata Muhammad Abduh bahwa sesungguhnya kurikulum yang baik di sekolah Islam adalah berkaitan dengan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu modern. Kedua katagori ilmu tersebut hendaknya berhasil dalam pembinaan akhlak.

Sesungguhnya kata Muhammad Abduh bahwa kemajuan ilmu dimulai dari Timur baru ke Barat, kemudian saat ini kita harus mengambil kembali ilmu-ilmu yang hilang dari kita, apalagi ilmu-ilmu tersebut dikuasai oleh orang-orang di Barat.

Dari penjelasnnya tersebut di atas, dapat dipahami bahwa pada masa Muhammad Abduh ilmu-ilmu modern itu berkembang di negeri Barat yang pada awalnya berasal dari negeri Timur, maka ilmu yang hilang itu harus dicari kembali dari negeri Barat.

Mari kita lihat secara rinci pemikiran Muhammad Abduh tentang kurikulum dalam pengertian mata pelajaran yang diajarkan di sekolah formal dari sekolah dasar sampai sekolah tingkat tinggi dapat dijelaskan sebagai berikut:

2. Kurikulum Menurut Muhammad Abduh

Kurikulum Sekolah Dasar
Bahwa kurikulum pada sekolah Dasar meliputi: Membaca, menulis, berhitung, prinsip-prinsip bahasa Arab atau kaidah-kaidah bahasa Arab, pelajaran agama, pelajaran Akhlak

Muhammad Imarah dalam pemikirannya menambahkan bahwa pelajaran agama di sekolah dasar menurut Muhammad Abduh meliputi :

Akidah, bahwa buku yang dipelajari pada sekolah dasar adalah buku ringkasan akidah lslam ahli sunnah dengan tidak mengajarkan, perbedaan pendapat disertai dengan dalil-dalil yang mudah diterima oleh akal. Pelajaran agma Islam harus menunjukkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits shahih. Pada periode ini tidak boleh mengajarkan perbandingan agama seperti perbandingan agama Islam dengan Kristen .

Fiqh dan Akhlak, buku yang dipelajari di sekolah dasar juga berhubungan dengan halal dan haram dari perbuatan sehari-hari, akhlak mahmudah [yang baik] dan akhlak mazmumah [buruk], dan bahaya bid'ah. Semua itu diterangkan dengan menyertakan ayat-ayat al-Qur'an, hadits shahih, dan memberikan contoh-¬contoh orang-orang yang jujur dari umat terdahulu. Doktrin yang harus dilakukan oleh seorng guru pada tingkatan ini adalah segala perbuatan yang tidak bersandar dari Allah dan Rasulullah Saw tidak boleh diterima.

Sejarah. buku yang dipelajari ialah sirah al-nabawiyah dan shahabatnya yang berhubungan dengan akhlak mulia, perbuatan agung, pesan-pesan agama yang berhubungan dengan pengorbanan jiwa dan harta. Selain itu, juga boleh ditambah dengan sejarah khilafat Utsmaniyah. Semua itu, hendaknya diajarkan dengan ringkas dan mudah diterima akal.

Kurikulum Sekolah Menengah
Kurikulum yang diajarkan pada Sekolah Menengah, semua yang ada dalam Sekolah Dasar, hanya saja materi-materi lebih diperdalam dan diperluas lagi. Adapun ciri-ciri yang lain pada kurikulum di sekolah menengah sebagai berikut

Mantiq atau ilmu logika dan dasar-dasar penalaran,

Akidah, Pada tingkat ini materi yang dikemukakan dengan pembuktian akal dan dalil-dalil yang, pasti. Pada tingkat ini juga, belum diajarkan perbedaan pendapat atau pembagian firqah-firqah dalam Islam. Pada tingkat ini sudah diajarkan fungsi akidah dalam kehidupan,

Fikih dan akhlak. Pada tingkat ini pelajaran fikih dan akhlak hanya pengembangan yang diberikan pada tingkat dasar. Pelajaran ditekankan pada aspek sebab, kegunaan, dan menghormati orang tua, apa pengaruhnya terhadap kehidupan keluarga, dan sebagainya. Landasan pelajaran-pelajaran itu harus bersumber pada dalil-dalil yang shahih dan praktek ajaran Islam al-salaf al-shalih.

Sejarah Islam [tarikh al-Islam]. Materi pelajaran di sini adalah pengembangan dari materi sejarah Islam pada tingkat dasar. Pada tingkat ini, sejarah Islam dapat dilihat dari perspektif agama dan aspek politik, harus berada dibelakang aspek agama.

Selanjutnya Muhammad Imarah berpendapat bahwa kurikulum sekolah menengah menurut Muhammad Abduh mencakup seluruh kurikulum sekolah dasar dan pada pengembangannya. Adapun materi kurikulum yang baru pada tingkatan ini ialah sebagai berikut:

Pengantar ilmu, termasuk di dalamnya ilmu mantik dan dasar-dasar penelitian,dan aturan berdiskusi

Akidah yang mencakup usul fiqih, dan sebagian kecil tentang perbedaan pendapat dalam madzhab Islam yang lebih dikenal firqah Islam. Selain itu, materi akidah ini juga mencakup manfaat akidah Islam dalam kehidupan yang maju untuk mencapai kebahagian hidup ukhrawi.

Tentang hukum Islam yang menyangkut tentang hukum halal, haram dan akhlak. Di sini dijelaskan manfaat dan bahaya dari hukum halal dan haram yang lebih luas dari kurikulum di sekolah dasar. Selain itu, juga dijelaskan akhlak pada tingkat ini lebih diperluas dari kurikulum akhlak di sekolah dasar, sehingga anak didik dapat mengetahui bahwa akhlak pada tingkat ini juga harus didukung oleh ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih,

Tarikh Islam [Sejarah Islam] yang terdiri dari uraian rinci tentang sirah al-nabawiyah dan shahabatnya, futuhat al-Islamiyah, khilafat Utsmaniyah. Jika menguraikan sejarah dari aspek politik, maka hendaknya tidak keluar dari tujuan agama. Dalam tingkatan ini juga diterangkan sejarah pemerintahan atau khilafat Islam di seluruh dunia. Pengajaran sejarah pada tingkatan ini, untuk membangkitkan semangat Islam dalam mencontohkan yang baik dalam sejarah itu, sehingga Islam akan lebih maju lagi.

Kurikulum Sekolah Tingkat Atas.
Pelajaran agama Islam pada tingkatan ini dijelaskan oleh Muhammad Abduh [al-‘urufa al-ummah] mencakup mata pelajaran : Tafsir, hadits, bahasa arab dengan segala cabangnya, akhlak dengan pembahasan yang terinci sebagai yang diuraikan oleh Imam al-Ghazali dalam bukunya yang termasyhur ihya ‘Ulum ad-Din. Ushul Fiqih, Sejarah yang termasuk di dalamnya sejarah nabi Muhammad Saw. dan shahabat-shahabatnya yang diuraikan secara rinci. Sejarah peralihan kekuasaan Islam, sejarah kerajaan Ustmaniyah, dan sejarah jatuhnya kerajaan-kerajaan Islam ke tangan lain dengan menerangkan penyebabnya, retorika [tehnik berpidato], dasar-dasar berdiskusi, dan ilmu kalam.

Pada tingkat ini, ilmu kalam diberikan dengan menerangkan aliran-aliran yang terdapat dalam ilmu kalam [Teologi Islam], dengan menjelaskan dalil-dalil yang menopang pendapat setiap aliran. Pada tingkat ini, pelajaran ilmu kalam tidak bertujuan untuk memperteguh akidah, tetapi untuk memperluas cakrawala pemikiran siswa

Muhammad Imarah berpendapat bahwa kurikulum perguruan tinggi menurut Muhammad Abduh sebagai berikut:

Tafsir al-Qur'an. Yang paling penting dalam pelajaran ini adalah membaca dan memahami al-Qur'an yang diturunkan oleh Allah SWT dengan sejumlah hikmahnya,
Bahasa Arab dan tata bahasanya,
Hadits, khususnya yang dikutip para mufassir dalam menafsirkan al-Qur'an,
Akhlak dengan penjelasan yang rinci seperti yang dilakukan oleh Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulum al-Din dan mencocokkannya dengan akidah Islam,
Usul Fiqh,
Sejarah yang lama dan yang baru, Logika dan khirhabah,29
logika dan khithabah, .
Ilmu kalam dan penelitan agama.

Kalau dilihat dari kurikulum yang dikemukakan Muhammad Abduh pada tiga tingkatan di atas, secara umum menggambarkan kurikulum pendidikan agama Islam. Adapun ilmu-ilmu Barat tidak dimasukkan oleh Muhammad Abduh ke dalam kurikulum. karena menurutnya ilmu-ilmu umum itu dipelajari bersama-sama dengan ilmu-ilmu yang telah dijelaskan di atas. Dalam kata lain, ilmu-ilmu umum hendaknya terintegrasi ke dalam ilmu-ilmu agama. Selanjutnya Muhammad Abduh tidak merinci karena menurutnya setiap sekolah memiliki kecenderungan-kecenderungan atau penekanan- penekanan yang berbeda antara satu materi pelajaran dengan materi pelajarn yang lainnya.

Pada tingkatan yang terakhir ini harus dibimbing atau diajar oleh guru-guru yang professional dan berakhlak mahmudah. Mahasiswa yang kuliah juga tidak diberikan tanda tamat belajar [ijazah] sembarangan kecuali setelah mereka mengikuti ujian yang mendalam dan mengikuti komprehensif dan dinyatakan lulus.

3. Metode Pendidikan Islam
Yang dimaksud dengan metode pendidikan Islam disini adalah semua cara yang digunakan dalam upaya mendidik anak. Oleh karena itu, metode yang dimaksud di sini mencakup juga metode pengajaran. Sesungguhnya, membicarakan metode pengajaran terkandung juga dalam pembahasan materi pelajaran sebab dalam materi pelajaran secara tidak langsung juga membicarakan metode pengajaran.

Prof.Dr.Ramayulis dalam metodologi pengajaran agama Islam menyebutkan bahwa tidak ada satu metode yang dijamin baik untuk setiap tujuan pengajaran dalam setiap situasi. Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan. Untuk itu, semua metode pendidikan atau pengajaran menurut Muhammad Abduh yang akan diuraikan di bawah ini tidak menolak dan menafikan adanya metode-metode yang lainnya. Metode metode yang akan diuraikan, dipilih atas pertimbangan literatur yang ditemukan.

Da1am pembahasan ini, akan diuraikan metode menghapal, metode diskusi, metode tanya jawab, metode darmawisata, metode demonstrasi, metode latihan, metode tauladan, cara belajar siswa aktif [CBSA], dan langkah-langkah pengajaran.


Metode Menghafal
Dalam bidang metode pengajaran Muhammad Abduh menggunakan metode menghafal yang telah dipraktekkan di sekolah sekolah saat itu memakai metode menghapal. Karena metode menghapal ini pulalah Muhammad Abduh frustasi dan membenci belajar saat ia belajar di mesjid Ahmadi Thanta. Muhammad Abduh mengkritik metode menghapal bukan berarti membenci metode tersebut, ia tidak setuju dengan metode ini kalau berhenti sampai di situ. Selanjutnya ia mengatakan ;

"Saya kata Muhammad Abduh, telah mengalami pengajaran seperti ini, belajar setahun setengah tanpa memahami sesuatu dari al-Kafrawi dan Ajrumiyah. Metode pengajaran ilmu nahwu tanpa memahami istilah-istilahnya telah membuatku (Muharnmad Abduh) tidak memahami sesuatu, akhirnya saya benci belajar dan putus asa, tetapi Allah ternyata menghendaki lain, bapak saya memaksaku untuk kembali belajar dan ditengah jalan saya menyimpang [pergi ke Kanisah Urin] ”

Hendaknya metode menghafal ini hendknya diteruskan pada pemahaman, sehingga dimengerti apa yang dipelajari. Menurut Arbiyah Lubis, dalam tulisan-tulisan Muhammad Abduh, ia tidak menjelaskan metode apa yang sebaiknya diterapkan, tetapi dari pengalamannya mengajar di Universitas al-Azhar, Mesir nampaknya ia menerapkan metode diskusi.

Metode Diskusi
Dari pengalaman belajar Muhammad Abduh dan kritikannya terhadap metode menghapal, dapat diketahui bahwa ia mementingkan pemahaman, hal itu didukung oleh fakta metode yang ia praktekkan dan ia sukai metode diskusi.

Sewaktu Muhammad Abduh menafsirkan sebuah QS.al-Nisa ayat tiga puluh lima, dalam keterangannya tentang ;

وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
"Wa bi walidain ihsaanan”

Disebutkan bahwa metode orang tua dalam mendidik anak di Mesir membuat anak sebagai manusia passif, sehingga mereka (para Orang tua) mendidik anak-anak dengan cara diktator. Kebanyakan orang tua mencetak anak-anak sesuai dengan kehendak mereka. Anak ¬anak dijadikan berpengetahuan atau berilmu sesuai dengan pengetahuan orang tua, anak-anak marah sesuai dengan marahnya orang tua. Anak-anak berbuat sesuai dengan keinginan orang tua, selanjutnya Muhammad Abduh berpikir dan kemudian bertanya ;

“Apakah dengan metode pendidikan seperti ini akan menghasilkan umat yang kuat dan adil sehingga mereka bebas dalam berbuat baik dalam bidang politik maupun dalam hukum ?”

Rumah adalah lembaga yang menciptakan pendidikan kediktatoran yang buruk dan mencetak kader-kader pemimpin yang zhalim dan yang hina.Para orang tua yang mendidik anak secara diktator sesungguhnya mereka yang gila akan kehinaan mereka anggap suatu kenikmatan dan keselamatan. Selanjutnya, Muhammad Abduh mengatakan,

“Wahai ulama agama dan adab, hendaknya kalian menerangkan kepada umat baik di sekolah-sekolah atau majlis-majlis apa kewajiban orang tua terhadap anak dan apa kewajiban anak terhadap orang tua, dan kewajiban umat terhadap dua kelompok itu. Hendaklah kalian tidak lupa kaidah atau teori kemerdekaan dan kebebasan. Dua kaidah itu adalah landasan dasar berdirinya bangunan Islam. Para sosiolog bagian utara yang berkuasa pada zaman ini (Roma) mengakui bahwa peradaban mereka maju karena mereka berlandaskan dua dasar di atas [kebebasan berpikir dan berbuat].

Pada penjelasan tersebut di atas, Muhammad Abduh berpendapat bahwa metode pendidikan dan pengajaran hendaknya memperhatikan kemampuan bakat dan minat anak didik. Dalam kata lain, metode pengajaran yang memberikan kebebasan berpikir dan berkreasi dalam pendidikan dan pengajaran adalah metode diskusi. Metode diskusi inilah yang banyak dipraktekkan oleh Muhammad Abduh dalam mengajar di Universitas al-Azhar Mesir. Menghapal dalam proses belajar tidak mungkin di dinafikan karena ia sangat esensial.Terbukti umat Islam banyak yang hapal al-Qur'an termasuk Muhammad Abduh, Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa Muhammad Abduh tidak mengharamkan metode menghapal, tetapi dapat diketahui dari pengalaman dan kritiknya terhadap metode menghapal, sepertinya ia berpendapat bahwa metode menghapal tanpa pemahaman tidak baik (untuk tidak mengatakan buruk).

Metode Tanya Jawab
Manusia berhak membuka jalan bagi penuntut ilmu untuk meneliti dalam berbagai ilmu pengetahuan.Contohnya; ia menerangkan kaidah atau sebuah teori, kemudian ia mencari kecocokannya dalam berbagai aspek pekerjaan. Dalam hal ini metode pengajaran, hendaknya guru mengjarkan kepada anak didik cara untuk mengetahui kesalahan dan cara kembali kepada yang benar. Cara yang demikianlah yang dipraktekkan oleh Muhammad Abduh ketika belajar sehingga ia menjadi seorang seorang ahli. Adapun untuk memperdalam suatu ilmu sangat tergantung pada usaha seorang anak didik setelah seseorang lulus dari suatu lembaga pendidikan, maka ia akan mengamalkan apa-apa yang ia peroleh ketika sekolah. Kemudian untuk memperdalam pengetahuannya itu, hendaknya ia belajar lebih lanjut.

Muhammad Qodri Luthfi mengatakan bahwa Muhammad Abduh dalam mengajar menggunakan metode hiwar (tanya-jawab) dan munaqasah [diskusi] tidak hanya ceramah Memang dua metode tanya jawab dan diskusi bisa berdampingan bahkan pada setiap diskusi ada metode tanya jawab, tetapi mutlak dalam metode tanya jawab ada metode diskusi.

Metode Darmawisata.
Muhammad Abduh dalam pemikirannya sering membuat terobosan dalam pendidikan dan pengajaran. Dalam hal metode darmawisata misalnya menyebutkan bahwa rihlah adalah rukun dalam pendidikan. Ketika ingin mengajarkan kapada anak didik materi "pesawat" hendaknya mereka dibawa langsung ke bandara. Ketika ingin mengajarkan "kapal" hendaknya anak didik dibawa ke pelabuhan. Mereka sulit memahami sesuatu yang abstrak,

Kalau dilihat contoh metode darmawisata tersebut di atas, dapat dipahami bahwa salah satu fungsi metode ini untuk dapat dipahami bahwa salah satu fungsi metode ini untuk dapat memahami materi kepada anak didik. Selain itu, metode darmawisata salah satu indikasi bahwa belajar tidak hanya di kelas. Metode pengajaran seperti disebutkan di atas sangat lebih tepat digunakan pada sekolah dasar dimana kemampuan berpikir abstrak anak didik belum matang.

Metode Demontrasi
Dalam menyampaikan materi Ilmu-ilmu praktis (fi'liyah) hendaknya tidak hanya diajarkan dengan menyampaikan ilmunya dengan cara berceramah, kemudian anak didik disuruh untuk menghafalnya ilmu-ilmu fi'liyah harus diajarkan dengan cara menyertakan prakteknya, seperti mengajarkan tata cara shalat lima waktu dengan mendemontrasikannya baik di depan kelas maupun di mesjid.

Lebih lanjut Muhammad Abduh mengatakan ; Hendaknya guru mengadakan praktek mengajar di sekolah tidak hanya sebentar, tetapi dalam waktu yang cukup lama, sehingga para calon guru tersebut telah siap ilmu dan mentalnya untuk mengajar di saat mereka telah menjadi sarjana.

Metode Latihan
Untuk mengintegrasikan antara pendidikan akal dan jiwa, guru di sekolah harus menyuruh anak didik untuk melakukan shalat lima waktu. Bagi sekolah yang memiliki anak didik beragama non Islam seperti Kristen, maka guru hendaknya tidak menyuruh mereka untuk melaksanakan shalat, namun meskipun anak didik yang non Islam tidak melaksanakan shalat, tetapi nilai-nilai spiritual tersebut tidak boleh hilang dari mereka.

Dari penjelasan tentang pembiasaan ibadah tersebut di atas, dapat dipahami bahwa Muhammad Abduh sangat demokratis dan menghormati kebebasan beragama. Tetapi nilai-nilai akal [intelektual] dan jiwa [spiritual] bersifat universal, sehingga berlaku pada seluruh negara, suku, bangsa, agama, dan sebagainya.

Metode Teladan
Pendidik harus dapat mendidik anak didik untuk memiliki sifat kasih sayang terhadap sesama manusia. Dalam mengajarkan pesan kasih sayang itu, guru dapat memberi tauladan kepada anak didik. Tauladan yang baik jauh lebih berpengaruh kepada jiwa anak didik dari pada sekedar teori. Selain aspek tauladan, guru juga harus memperhatikan dan memilih gaya bahasa yang serasi untuk menyampaikan pesan sifat kasih sayang itu. Gaya bahasa yang digunakan guru juga harus memperhatikan aspek efektivitas dan efesiensi.

Dari penjelasan tersebut di atas, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa pengajaran yang bertujuan untuk membina akhlak, hendaknya guru menggunakan bahasa yang baik mudah dipahami, jelas, dan tegas, disampaikan dengan uslub atau tata cara yang baik.

Cara Belajar Siswa Aktif
Muhammad Abduh mengajar materi Risalah al-Tauhid, al-Bashair, Asrair al-Balaghah, dan Dalail al-I’jaz. Ia mengajar buku-buku tersebut dengan keterangan yang singkat dan padat. Anak didiknya sangat sedikit yang bertanya. Sedikit yang bertanya maksudnya bukan sedikit yang paham materi pelajaran yang diterangkan oleh Muhammad Abduh, tetapi keterangan Muhammad Abduh yang singkat dan padat itu sudah membuat anak didiknya paham. Jika ada yang bertanya karena kesulitan dalam memahami, maka ia menjawab dengan jawaban yang singkat dan padat juga.

Dari uraian Muhammad Abduh tentang metode pengajaran tersebut di atas, dapat dipahami bahwa guru dalam mengajar tidak perlu menerangkan panjang lebar kalau intinya hanya sedikit, tetapi lebih baik singkat padat dan mengenai sasaran (qalla wa dalla). Hal ini juga menjadi indikasi bahwa Muhammad Abduh dalam mengajar menginginkan anak didik lebih aktif dan kreatif, sehingga guru hanya membantu dan mengantarkan anak didik pada pemahaman materi. Dalam kata lain, guru berfungsi sebagai pembimbing dan fasilitator. Dalam konteks kekinian, konsep metode pengajaran yang dimaksud oleh Muhammmad Abduh di antaranya sesuai dengan metode diskusi, tanya jawab, dan cara belajar siswa aktif .

Pembiasaan berpikir sesuai dengan hukum akal. Muhammad Abduh berpendapat bahwa tidak wajib bepikir kecuali untuk sesuatu yang benar. Jika seseorang menemukan jalan berpikirnya benar, maka ia boleh mengikutinya dan jika ia menemukan jalan berpikirnya salah, maka ia harus meninggalkannya .

Langkah-Langkah Mengajar
Adapun alat pemblajaran yang paling efesien melalui pengajaran tafsir al-Qur'an harus disebutkan judul atau temanya dan dikemukakan hubungannya dengan pembaruan umat. Dalam pembaharuan masyarakat Muhammad Abduh berusaha menghubungkan Islam dengan peradaban modern dan ilmu pengetahuan. Selain itu ia juga berusaha menghindari kesalahan dalam memahami teks-teks agama karena ia berpendapat bahwa akidah yang bersih dari bid'ah akan melahirkan perbuatan yang baik.Dalam pengajaran Muhammad Abduh juga sangat memperhatikan urusan agama dan dunia serta akhlak yang mulia.
.
Muhammad Abduh mengajar dengan menempuh tiga langkah, yaitu: mengutarakan materi (matan), menerangkan [al-syarh], menyebutkan hasyiyah-hasyiyah-nya . Terkadang Muhammad Abduh menambahkan langkah terakhir dengan keputusan atau penentuan sikap. Kalau dilihat dari langkah-langkah yang ditempuh Muhammad Abduh ini, maka dapat disimpulkan bahwa langkah-¬langkah pengajaran tersebut pada materi yang mangandung perbedaan pendapat seperti materi pelajaran ilmu kalam dan fiqh. Muhammad Abduh berusaha agar anak didiknya tidak membaca hasyiyah suatu buku.

Dan keterangan suatu buku untuk menghindar suatu taklid ia tidak mengajarkan sampai akhir masa pembaharuan di Universitas al-Azhar Mesir selain matan [materi].Meninggalkan hasyiyah dan keterangan buku serta mengajarkan matan nya yang dilakukan Muhammad Abduh berhubungan dengan ayat al-Qur'an dan hadits sebab para ulama sebenarnya berbeda pendapat dalam memahami nas-nas tersebut. Muhammad Abduh juga mengarang Ta’liqat dari buku al-Bashair al-Nashiriyah dalam ilmu mantiq, tetapi ia tidak mewajibkan anak didiknya untuk membacanya. Muhammad Abduh mengarang Ta’liqat tersebut untuk mempermudah mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir dalam memahami pendapatnya tentang ilmu mantiq.

Muhammad Abduh ketika mengajar meletakkan buku catatan materi di depannya, kemudian ia menulis judul materi pelajaran yang akan diajarkan dengan singkat dan jelas. Selain itu, ia juga menulis beberapa pertanyaan yang akan dijawab setiap tatap muka. Muhammad Abduh tidak lupa menulis tujuan pembelajaran setiap tatap muka dengan ungkapan yang variatif. Menurut Rasyid Ridha langkah-langkah pengajaran atau kegiatan pengajaran seperti yang dilakukan oleh Muhammad Abduh sangat berbeda dengan yang dilakukan gurunya Jamaluddin al-Afghani. Jamaluddin al-Afghani pertama kali meminta anak didiknya bertanya, kemudian masalah itu diidentifikasi dan selanjutnya ia menerangkannya dengan merujuk suatu buku untuk memahamkan anak didik.

Hendaknya seorang guru kata Muhammad Abduh dapat mengetahui dan mempertimbangkan apakah anak didiknya mampu memahami materi pelajaran dengan memakai metode tertentu dan apakah anak didik telah siap secara psikologis menerimanya (materi - pelajaran). Guru ketika ingin mengajar harus memposisikannya sebagai anak didik, kemudian naik sedikit demi sedikit sampai pada derajat setinggi mungkin. Ini adalah keterampilan untuk mengetahui tingkat kemampuan otak dan cara menggunakannya. Keterampilan khusus ini harus dipelajari calon guru selama enam belas tahun dan jika inti-intinya saja, maka cuknp ditempuh selama delapan tahun.

Ada beberahal yang harus diperhatikan dalam memahami pemikiran Muhammad Abduh tentang metode pendidikan dan pengajaran. Ia berpendapat bahwa metode penyampaian ilmu kepada manusia tidak selalu sama. Metode dapat berubah sesuai dengan perubahan tempat dan zaman.

Contoh yang dikemukakan Muhammad Abduh adalah teknologi pos dalam mengirim uang. Mestinya amanah penitipan uang mesti disampaikan langsung kepada orang yang bersangkutan, tetapi dengan adanya teknologi pos ini, maka caranya pun mengalami perubahan .

4. Pendidik
Pada pembahasan pendidik ini, termasuk pada katagori guru, dan dosen yang dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah mu'allim, mudarris dan ustadz. Adapun dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah teacher dan lecturer.

Jika dilihat dari sebagian tugas pendidik, maka dalam Islam dapat dirujuk kepada al-Qur’an. Setidaknya, di dalam al-Qur’an ada empat nama yang dapat dikatagorikan guru, yaitu : Allah

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ {1} خَلَقَ الإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ {2} اقْرَأْ وَرَبُّكَ اْلأَكْرَمُ {3} الَّذِي عَلَّمَ ابِالْقَلَمِ {4} عَلَّمَ اْلإِنسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ {5}

Bacalah dengan [menyebut] nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia, Yang mengajar [manusia] dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. [al-Alaq ayat 1-5]

Nabi Muhammad sebagai pendidik.

} رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ ءَايَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ {}

Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab [al-Qur’an] dan al-Hikmah [as-Sunnah] serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana [al-Baqarah ayat 129]

Orang tua sebagai pendidik.

} وَإِذْقَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لاَتُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ {13} وَوَصَّيْنَا اْلإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَىَّ الْمَصِيرُ

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur [kepada Allah], maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”

Dan [ingatlah] ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan [Allah] sesungguhnya mempersekutukan [Allah] adalah benar-benar kedzaliman yang besar”.

Dan Kami perintahkan kepada manusia [berbuat baik] kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembali. [QS.Luqman ayat 12-14].

Allah dan Nabi Muhammad Saw. sebagai guru tentunya sangat ideal dan tidak mungkin dapat dicontoh secara sempurna, tetapi orang tua dan orang lain adalah sebagai manusia biasa sebagaimana terkandung dalam ayat-ayat al-Qur’an tentu dapat dicapai secara sempurna. Selanjutnya, bagaimana pendapat Muhammad Abduh tentang, pendidik, akan diuraikan berikut ini:

Tugas Guru .
Pendidikan adalah tugas guru yang pertama dan pengajaran adalah tugas keduanya. Muhammad Abduh mengatakan; "Tujuan utama mendirikan sekolah adalah untuk pengajaran. Pengajaran yang dimaksud oleh Muhammad Abduh tentu pendidikan sekolah formal yang sangat berbeda dengan pendidikan non formal. Pendidikan Sekolah tentu memiliki keteraturan, sedangkan pendidikan non sekolah tentu tentu tidak ada keteraturan formalnya, seperti tidak ada kurikulum yang sama antara satu pendidikan rumah dengan rumah yang lain, tidak seragamnya tujuan pendidikan rumah tangga, tidak sama waktu belajarnya, dan sebagainya. Oleh karena itu, pengajaran menurut Muhammad Abduh identik dengan keteraturan belajar. Dengan kata lain, pendidikan tidak selamanya melalui, pengajaran tetapi pengajaran adalah salah satu bentuk pendidikan. Jadi antara pendidikan dan pengajaran terdapat perbedaan. Menurut Muhammad Abduh, hendaknya dalam pengajaran di sekolah-sekolah selalu diperhatikan pendidikan akal [intelektual] dan jiwa [spiritual] , sehingga anak didik menemukan kebahagiaan yang sempurna selama ia hidup.

Sebenarnya tugas seorang guru tidak sekedar mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anak didik, karena tugas utamanya adalah mendidik dan mengajar dalam pengertian yang terbatas. Mengajar adalah sebagian dari perbuatan mendidik. Dalam pengertian yang baru, mengajar merupakan upaya dan proses membuat anak didik mau belajar (Causing Children to learn) [learning how to learn]. Dari sekolah diharapkan anak didik dapat meningkatkan kecerdasannya, terbentuk akhlak dan kepribadiannya, mendapatkan keterampilan dalam bekerja, meningkatkan kemampuan estetikanya, dan berkemampuan secara layak untuk hidup di tengah-tengah masyarakatnya.

Dari penjelasan tentang tugas pendidik yang tersebut di atas, dapat dipahami bahwa tugas tersebut disebut tugas profesi. Uzer Utsman mengungkapakan bahwa tugas profesi guru meliputi mendidik, mengajar, dan melatih.

Menurut Mahammad Abduh, di Mesir pada dasarnya substansi pendidikan telah hilang karena para pendidik tidak berkepentingan pada anak didik yang diajarinya karena itu sulit mencapai tujuan. J.E. Aderson mengatakan bahwa perbuatan mendidik adalah keseluruhan aktivitas yang terjadi dan terdapat pada individu anak didik dan ketiga lingkungan pendidikannya, lingkungan dimana ia hidup masyarakat dan nilai-nilai moral yang meliputinya, proses pendidikan berlangsung terus menerus guru bertugas membantu dan membimbing serta mengarahkan agar dapat mempermudah pencapaian tujuan.

Suatu kritikan tajam dari Muhammad Abduh tentang guru-guru Mesir pada masanya mereka tidak perduli keadaan muridnya, hubungan antara guru dan murid terbatas hanya di kelas, moral guru kurang mulia. Bahkan lebih ekstrimnya lagi guru tidak boleh berhubungan dengan murid. Guru-guru dalam mengajar saat itu tidak menjelaskan tujuan instruksionalnya tidak ada buku pegangan mereka.

Sikap afektif merupakan komplementasi bagi ranah kognitif.Ia harus berdisiplin yang benar karena guru bukan saja fungsional yang digaji dan yang mempunyai tanggung jawab tertentu yang justru membatasi kewajiban-kewajiban sehingga membuat terciptannya jarak antara guru, murid, dan masyarakat

Dan penjelasn tentang kritik Muhammad Abduh terhadap guru yang tersebut di atas, dapat dipahami bahwa guru hanya berfungsi sebagai pengajar yang menciptakan jarak dari anak didiknya. Dalam kondisi seperti di atas, biasanya anak didik sangat hormat dan takut kepada gurunya. Hubungan seperti ini terkesan birokratis antara atasan dan bawahan. Di sini secara implisit Muhanimad Abduh menginginkan guru bersahabat dengan anak didiknya. Guru yang menjadi orang tua kedua bagi anak didik. Dengan demikian, tujuan pendidikan lebih mudah berhasil.Dalam kata lain, Muhammad Abduh berpendapat bahwa guru memiliki tugas kemanusiaan.

Kompetensi Guru
Mempertegas pendapatnya mengenai pengajar yang menurutnya tidak layak mengajar karena umumnya para pengajar masa itu disebut “Fuqaha” tidaklah mengerti sama sekali hal-hal lain kecuali hapal al-Qur'an secara verbal tanpa mengetahui artinya.

Dari penjelasan tentang kompetensi guru yang tersebut di atas, Muhammad Abduh menghendaki guru yang professional, tahu akan ilmu pendidikan, ilmu psikologi, dan sebagainya. Hanya saja ia tidak merincikan kompetensi seorang guru, tetapi setidaknya kritikannya itu dapat dilihat dari potret dirinya sebagai seorang guru sebagaimana digambarkan oleh C.C.Adams.

Mengenai guru yang baik pakar pendidikan C.C Adams menggambarkan bahwa Muhammad Abduh merupakan seorang guru yang bijaksana, mengetahui keadaan objektif muridnya, baik fisik, mental, dan pengetahuan, sehingga dapat mengkomunikasikan segala sesuatunya selama proses pengajaran secara benar. Dalam hal ini, Muhammad Abduh berkata;

“Seharusnya guru memilik pengetahuan atau pertimbangan yang memadai tentang muridnya, sehingga ia dapat menilai pemikiran dan kesiapan muridnya untuk menerima apa yang dikatakannya.

Selanjutnya C.C.Adams bahwa Muhammad Abduh sangat menguasai masalah-masalah Ahli sunnah secara mendalam baik literature primer dan sekunder yang selalu dirujuk dalam pengajarannya. Guru yang professional menurutnya, setidaknya memiliki kompetensi berikut ini; Prilaku yang baik , pengetahuan luas , menguasai materi.

Dari penjelasan tentang kompetensi yang penulis sebutkan di atas, Muhammad Abduh berpendapat bahwa guru yang professional harus memiliki kompetensi berprilaku yang baik, berwawasan dan berpengetahuan yang luas, dan menguasai materi. Ketiga katagori kompetensi tersebut masih dikenal dalam ilmu pendidikan sekarang ini. Prilaku yang baik sebagai kompetensi guru disebut oleh Muhammad Uzer Utsman dengan kompetensi professional .

Sifat Seorang Pendidik .
Pendidikan menurut Muhanumad Abduh hendaknya berusaha menghasilkan manusia yang berakhlak mahmudah. Oleh karena itu, pendidikan harus menghasilkan insan-insan berakhlak mahmudah. Karena di antara hasil yang akan dicapai dalam pendidikan pembinan akhlak mulia,maka sudah pasti guru sebagai tenaga pendidik juga harus berakhlak mahmudah.

Muhammad Abduh tidak merinci secara detail apa itu akhlak mulia, tetapi ia mengungkapkannya secara umum dan global. Sebagaimana dikutip Muhammad Imarah, akhlak mahmudah menurut Muhammad Abduh di antaranya mengikuti perilaku para nabi seperti nabi Ibrahim As, nabi Musa As, nabi lsa As, dan nabi Muhammad Saw. Selain perilaku nabi yang harus diikuti oleh guru, juga dapat mencontoh perilaku para syuhada, .shiddiqin , dan quddusin . Karena para nabi, syuhada, shiddiqin, dan quddusin adalah suri tauladan bagi semua manusia dan termasuk guru, maka harus juga meneladani cara berpikir, kebijaksanaan, dan sumber yang mereka pakai.

Selanjutnya, Muhammad Abduh berpendapat bahwa seorang guru harus memiliki pengetahuan tentang akhlak dan berakhlak mahmudah [yang baik]. Selain itu guru juga harus memiliki akidah yang baik dan pemikiran yang benar. Lebih lanjut, ia berpendapat bahwa guru harus perwira ('iffah],berani, dan energik, sehingga ia dapat melaksanakan semua tugasnya.

Dalam rangka mengajarkan akhlak mulia, menurutnya seorang guru harus menjadi tauladan bagi anak didiknya, sehingga kesempurnaan sikapnya menjadi pelajaran tambahan bagi mereka (anak didik). Prilaku yang baik dari seorang guru akan lebih berkesan dan berpengaruh bagi anak didik dari pada ilmu yang ia sampaikan.

Sisi lain yang diperhatikan Pendidik dalam Proses Belajar Mengajar
Muhammad Qodri Luthfi menulis pedoman umum dalam mengajar materi palajaran, antara lain.

Dalam mengajarkan ilmu agama, guru tidak boleh merujuk pada satu tafsir saja, tetapi ia harus mengambil ayat-ayat al-Qur'an untuk menghindari taklid terhadap suatu madzhab.

Hendaknya guru kata Muhammad Abduh berusaha menselaraskan Islam dengan peradaban modern dan Islam dengan ilmu.

Hendaknya juga guru mengajar dengan keterangan yang jelas dengan menyebutkan judul atau temanya.

Dalam pengajaran ilmu balaghah [tata bahasa Arab], hendaknya guru melatih dzauq [kecerdasan] dan meningkatkan uslub yang tinggi yang telah dinafikan oleh para filosof .

Dalam pengajaran insya‘ [dikte menulis arab] hendaknya diucapkan dengan baik dan fasih.

Dalam pengajaran berbagai ilmu, hendaknya (guru dikaitkan dengan prinsip-prinsip ilmu yang sesuai dengan tradisi dalam suatu Negara.

Dalam pengajaran ilmu berhitung, hendaknya guru mengaitkan rumus¬-rumusnya dengan perdagangan dengan cara menghitung jumlah yang dibeli dibelanjakan seseorang dan cara menghitung pendapatan negara, dan termasuk di dalamnya latihan menimbang.

Dalam pengajaran geometri, hendaknya guru mengaitkanmya dengan bentuk-¬bentuk yang berlaku dalam suatu negara.

Dalam pengajaran tata bahasa Arab, hendaknya guru menganjurkan untuk digunakan dalam tulis menulis.

Dalam pengajaran tentang pertanian dan industri, hendaknya guru memberi kesempatan untuk praktek lapangan setiap minggu.

Menurut Muhammad Imarah, bahwa Muhammad Abduh menganut madzhab pendidikan demokratis. Ia berpendapat pendidikan harus memperhatikan perkembangan dan periode anak, sehingga bisa menyesuaikan, tujuan, kurikulum, dan metode pengajaran yang layak digunakan oleh guru .

Panduan Khusus Pendidik Islam
Telah dikatakan oleh Muhammad Abduh bahwa agama tidak satu tetapi bermacam-macam dan demikian juga madzhab-madzhab dalam agama masing-masing. Oleh sebab itu, hendaknya satu agama dengan agama yang lain saling menghormati akidah masing-masing dan tidak menghina akidah orang lain.

Dari keterngan singkat tentang pelajaran agama terdahulu, dapat dipahami dalam konteks pendidikan guru menurut Muhammad Abduh harus memberikan materi-materi pelajaran agama yang dapat memperkuat akidah anak didik. Guru tidak boleh memberi keterangan yang berupaya untuk mendiskriditkan agama yang lain. Dalam hal ini Muhammad Abduh dapat disebut penganut madzhab pluralisme dalam ajaran agama.

Sebagai panduan operasional dalam pelajaran agama, hendaknya guru menerapkan nilai-nilai berikut:

Menghindari buruk sangka (su'u al-zhan) terhadap agama lain. Guru berusaha mempersatukan semua agama, tetapi bukan mempersatukan akidahnya.
Membangkitkan rasa kemanusiaan. Hendaknya ditanamakan oleh guru kepada semua anak didik bahwa semua manusia bersaudara bersumber dari satu bapak dan satu ibu, maka hendaknya yang satu memberi manfaat bagi yang lainnya. Oleh sebab itu semua manusia harus saling mencintai.

Dari keterangan yang panjang lebar tentang sifat guru di atas, secara umum itu mengandung akhlak mahmudah. Sifat-sifat para nabi, khususnya nabi Muhammad Saw dikenal dengan empat sifat [sidiq,amanah, tabligh, fatanah]. Empat sifat nabi Muhammada Saw itu dapat mewakili akhlak mahmudah.

Untuk sekedar pegangan operatif, demikian kata Prof.Dr.H. Nurcholis Madjid, nilai-nilai akhlak yang patut dipertimbangkan untuk ditanamkan kepada anak didik, antara lain: :Silaturrahmi (Shilatu al-rahim], persaudaraan [al-ukhuwah], persamaan[al-musawwah], adil [ al-‘adl], berbaik sangka [husnu al-zhan], rendah hati [tawadhu’], menepati janji [al-wafa’], lapang dada [al-insyirah], dapat dipercaya [al-amanah], menjaga diri dari syahwah [‘iffah atau ta’affuf], menolong meluruskan [qawamiyah], dermawan [al-munfiqun].




6. Anak Didik
Anak didik dalam pembahasan ini termasuk juga katagori murid, siswa, pelajar, dan mahasiswa yang dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah tilmidz, muta’allim, dan thalib. Adapun dalam bahasa Inggris dikenal istilah student .

Dalam pembahasan anak didik ini, akan dijelaskan, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak didik, tugas anak didik, f'ungsi motivasi bagi anak didik, perpustakaan dan anak didik, dan sistem drop out dan anak didik.

a. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Anak Didik.

Dalam pembahasan pasal ini lebih dahulu kita ketahui bagaimana pendapat Muhammad Abduh tentang fitrah manusia dalam kaitannya dengan perkembangan anak didik. Menurut Muhammad Abduh sebagaimana dikutip oleh Muhammad Imarah, pada umumnya pendidikan sekolah pada masa Kerajaan Utsmani tidak membuahkan hasil apa-apa, dan para lulusan sekolah-sekolah dasar itu tidak memperhatikan terjadinya proses perkembangan fitrah mereka. Terbukti bahwa perilaku mereka tidak mencerminkan kesucian fitrah mereka.

Kritikan Muhammad Abduh di atas tentang pelaksanaan pendidikan di Kerajaan Ustmani tersebut lebih lanjut dapat dipahami dari pendapatnya bahwa setiap individu memiliki potensi fitri yang baik, namun individu tersebut kemudian dapat berubah-rubah corak dan bentuknya sejalan dengan pendidikan yang ditempuh atau dialaminya. Lebih tegas, ia mengatakan bahwa manusia tidak jadi apa-apa kecuali dengan pendidikan dengan memahami ajaran yang dibawa oleh Rasul, baik dan aspek hukum, hikmah, dan lain-lain .

Dari keterangan tentang fitrah manusia tersebut di atas, dapat dipahami bahwa menurut Muhammad Abduh, manusia dalam hal ini anak didik dilahirkan dengan memliki potensi-potensi. Dalam kata lain, manusia lahir ke dunia ini tidak seperti kertas kosong sebagaimana dalam teori tabularasa. Di antara potensi-potensi lahiriyah (bawaan) manusia, khususnya potensi aqliyahnya tidak berkembang begitu saja tanpa ada proses pendidikan. Artinya, potensi aqliyah, tidak berfungsi sempurna tanpa adanya proses pendidikan. Oleh sebab itu, pendidikan adalah sarana untuk mengembangkan potensi aqliyah manusia itu. Pada tahap ini, Muhammad Abduh dekat pada aliran konvergensi daripada aliran nativesme dan empirisme.

Lebih lanjut, dalam membicarakan fitrah manusia, Muhammad Abduh pernah mengutip hadits nabi pada pidato resepsi di al-Jami'ah al-Khariyah "kullu mauludin yuladu ala al-fitrah, faabawahu yuhawwidanihi au yunashshiranihi au yumajjisanihi” kata “yuladu ‘ala al-fitrah” adalah menunjukkan pada potensi bawaan manusia, sedangkan tiga fi’il mudhari itu [yuhawidanihi, yunashshiranihi, dan yumajjisanihi,] mengidentifikasikan suatu proses perkembangan anak didik melalui pendidikan. Potensi bawaan [fitrah] ada yang bersifat aqliyah dan ada yang bersifat nafsiyah.

Fitrah nafsiyah atau ilahiyah manusia sesungguhnya adalah sama, tetapi fitrah aqliyah mereka dapat berbeda. Fitrah aqliyah manusia, erat hubungannya dengan kualitas gizi anak selama dalam kandungan dan selanjutnya disempurnakan dalam masa penyusuan selama dua tahun. Setelah dua tahun kata Andi Hakim Nasution, perkembangan otak akan lebih berkesan dan berpengaruh bagi anak didik dari pada ilmu yang ia sampaikan sebagai alat kecerdasan tidak berarti lagi. Akan tetapi kecerdasan bayi itu akan bertambah melalui kegiatan fisiknya yang berinteraksi dengan lingkungan.

Dalam hadits yang menjelaskan tentang fitrah manusia tersebut diatas, dapat dipahami bahwa manusia lahir membawa fitrah. Fitrah lahiriyah berupa potensi aqliyah dan nafsiyah. Kedua fitrah manusia itu berkembang dengan melalui proses pendidikan. Dengan demikian, Muhammad Abduh mengakui pembawaan lahir dan mementingkan proses pendidikan. Jadi jelaslah bahwa Muhammad Abduh sangat dekat dengan aliran konvergensi. Dalam kata lain, proses perkembangan aqliyah dan nafsiyah manusia setelah dua tahun banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan [empiris]

b.Tugas Anak Didik
Tugas sebagai anak didik tentunya bermacam-macam. Ada tugasnya terhadap dirinya, terhadap orang tuanya, terhadap teman-temannya, terhadap gurunya, terhadap pendidikan, dan sebagainya. Tugas anak didik terhadap pendidikan menurut Muhammacl Abduh adalah belajar bersungguh-sungguh. Pendapatnya ini didukung oleh data bahwa ketika ia mengajar di Universitas al-Azhar, mewajibkan mahasiswa bersungguh-sungguh dalam belajar, tidak boleh memiliki kesibukan selainnya.Ia juga mewajibkan mahasiswa untuk mengikuti ujian umum tahunan setelah mereka mengikuti ujian sesuai dengan tingkatan, kepintaran, dan kapasitas keilmuan mereka secara lisan.

Dari uraian tersebut di atas tentang kewajiban belajar dan ujian, dapat dipahami bahwa Muhammad Abduh menerapkan disiplin belajar yang baik. Kemudian sistem ujian umum tahunan yang dimaksud berbentuk tes tulis setelah dilakukan tes lisan untuk melihat kemampuan mahasiswa yang variatif. Konsep disiplin belajar yang diterapkan oleh Muhammad Abduh masih relevan sampai sekarang. Sistem boarding school dan beberapa pesantren di Indonesia juga masih menerapkan system ini. Adapun sistem ujian lisan dan tulis inipun masih banyak diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia.

Dengan demikian, di antara tugas anak didik terhadap pendidikan adalah bersungguh-sungguh belajar.Pendapat Muhammad Abduh ini sifat dengan sifat anak didik yang ditemukakan al-Abrasyi. la berpendapat bahwa diantara sifat anak didik adalah bersungguh-sungguh dan tekun belajar, bahkan untuk mendapat suatu kemuliaan (ilmu) seseorang perlu melakukan sahiru al-lail artinya tidak tidur pada malam hari dengan tujuan lainnya tidak dimasukkan dalam konteks ini.

c.Fungsi Motivasi Bagi Anak Didik
Pada fitrahnya, manusia ingin mulia dan dimuliakan. Salah satu bentuk pemuliaan di sekolah adalah pemberian beasiswa, baik beasiswa prestasi ataupun beasiswa tidak mampu. Dalam hal ini, Muhammad Abduh dalam pembaharuannya di Universitas al-Azhar memberikan beasiswa bagi para mahasiswa berprestasi sebagai motivasi untuk lebih bersemangat lagi dalam belajar. Beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa termasuk leaving cost.

Sistem pendidikan yang memberikan beasiswa adalah salah satu bentuk memotivasi anak didik yang masih relevan sampai sekarang.Beasiswa sebagai reword sangat berguna untuk membangkitkan semangat belajar yang berimplikasi pada kompetisi anak didik, karena padu dasarnya manusia ingin lebih mulia dari yang lainnya. Konsep ini jugalah yang tersirat dalam ayat fastabiqul al-khairat. ¬Muhammad Abduh tidak saja memperhatikan kesejahteraan mahasiswa, ia juga memperlihatkan kesejahteraan guru-guru dengan memberikan perumahan khusus untuk mereka bagi mereka juga disediakan kantor-kantor khusus untuk bekerja.

d.Perpustakaan dan Anak Didik
Belajar untuk memperoleh ilmu tentu tidak cukup hanya didapatkan dari guru. Demi memperluas wawasan, anak didik harus senang membaca. Senang membaca, salah satunya dapat dipengaruhi oleh lingkungan. Fasilitas perpustakaan adalah salah satu wadah untuk menciptakan cinta membaca. Dalam kaitannya dengan perpustakaan, Muhammad Abduh dalam pembaharuannya di Universitas Al-Azhar sangat apresiatif terhadap pengembangan, perpustakaan yang menginventarisir buku-buku. Sebagian perpustakaan itu ditempatkan di mesjid-mesjid yang dekat.

Oleh sebab itu, Muhammad Abduh menyediakan anggaran [budget] khusus untuk menambah buku-buku di perpustakaan, sehingga perpustakaan Universitas al-¬Azhar mengoleksi buku-huku dari berbagai ilmu pengetahuan.

Dari penjelasan tersebut di atas tentang perpustakaan, dapat dipahami bahwa lembaga pendidikan tidak bisa terlepas dari perpustakaan, apalagi perguruan tinggi. Di antara fungsi perpustakaan bagi anak didik, yaitu: alat memotivasi untuk cinta membaca, fasilitas untuk memperdalam ilmu, dan membantu anak didik yang tidak mampu membeli buku.

e. Sistem Drop Out dan Anak Didik
Dalam rangka menciptakan kesungguhan belajar anak didik, maka perlu dibuat aturan-aturan, salah satunya adalah sistem droup out. Berkenaan dengan drop out, Muhammad Abduh juga menerapkan sistem ini di Universitas al-Azhar. Paling lama seseorang kuliah di Universitas al-Azhar lima belas tahun. Delapan tahun pertama, mahasiswa bisa mendapatkan ijazah lokal dan empat tahun berikutnya bisa mendapatkan ijazah sarjana.

Dari penjelsan tersebut di atas tentang lama masa kuliah dan sistem drop out, maka menurut penulis dapat disimpulkan bahwa untuk mendapatkan gelar sarjana minimal membutuhkan waktu dua belas tahun. Jika ditarik dalam konteks sistem pendidikan tinggi saat ini, maka masa dua belas tahun bisa sampai pada tingkat doktoral. Sistem drop out ini diberlakukan oleh Muhammad Abduh di Universitas al-Azhar Mesir.

Jika dibandingkan dengan masa studinya dalam menempuh gelar 'Alim di lembaga pendidikan ini, maka Muhammad Abduh dapat dikatagorikan mahasiswa yang sungguh dalam belajar, karena ia dapat menyelesaikan studinya selama sebelas tahun. Sistem drop out, masih sangat diperlukan dan relevan, khususnya bagi masyarakat yang tidak memiliki budaya yang baik, dalam hal ini budaya rajin dan bersungguh-sungguh dalam belajar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar