Minggu, 08 November 2009

PSIKOLOGI AGAMA MENURUT IMAM AL-GHAZALI

Oleh : DR.H.Ridjaluddin.FN.,M.Ag
Dosen FAI Uhamka Jakarta


A. PEMAHAMAN PSIKOLOGI AGAMA

Psikologi yang membahas tentang olah jiwa, perbaikan akhlak, dan terapi akhlak tercela; Al-Ghazali sebagai pembaharu dan pengagas yang tidak bertaklid kepada filosofi sebelumnya, Al-Ghazali punya cara yang efektif dalam memperbaharui prilaku manusia. Dia telah mendahului para psikolog dan para ahli psikoanalisa modern. Sangat memperhatikan studi tentang jiwa ( ma'rifat an-nafs ) adalah jalan mengenal Tuhan ( ma'rifatullah ), Ma'arij al-Quds Fi Madarij Ma'rifat an-nafs . Terlihat keagungan sang pemilik (Allah) kebenaran dan kesempurnaan adalah ma'rifat jiwa (ma'rifat an – nafs) Sabda Nabi Muhammad;

"Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu, artinya: Barang siapa mengetahui akan dirinya, sesungguhnya ia mengetahui akan tuhan-Nya (pemelihara-Nya)".

Firman Allah SWT dalam al-Qur'an surat Fushillat ayat (41) ayat 53 yang menyatakan sebagai berikut :

سَنُرِيهِمْ ءَايَاتِنَا فِي اْلأَفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ

"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda–tanda (kekuasaan) kami disegenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu benar ".

Dan surat Adz-Dzariyat (51) ayat 20-21 yang menyatakan sebagai berikut :

وَفِي اْلأَرْضِ ءَايَاتٌ لِّلْمُوقِنِينَ {} وَفِي أَن
فُسِكُمْ أَفَلاَ تُبْصِرُونَ

“Dan di bumi ada tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi orang-orang yang yakin. Dan juga pada diri kami sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan ?”.

Mengenal Tuhannya; sifat-sifat perbuatan-perbuatanya, susunan alam, malaikat, langkah syetan, misi kerasulan, metode wahyu, metode mu'jizat, akhirat, puncak kebahagiaan (ghayat as-Sa'adah), yang tidak lain pertemuannya dengan Allah :

"Araftu rabbi bi rabbie laula rabbie lammaa araftu rabbie " yang artinya "aku mengetahui Tuhan dengan pengetahuanku (berpikir) tentang Tuhan jika tidak karena Tuhan aku belum mengetahui Tuhan."

Jiwa menurut Al-Ghazali, mengikuti pendapat Ibnu Sina, Al-Farabi dan Aristoteles tentang jiwa: Jiwa tumbuh- tumbuhan, jiwa hewan dan jiwa manusia. Al-Ghazali sangat terpengaruh pemikiran-pemikiran Aristoteles.

Al-Ghazali berkata : Jiwa adalah kesempurnaan pertama, tidak bersifat buatan. Kata Aliyin ( mekanistik ) bahwa jiwa memiliki alat-alat tertentu yang dipakai kesempurnaan nya (sama dengan pendapat Ibnu Sina ) dalam definisi jiwa, yang fungsi-fungsi kemanusiaan bersifat fisik dan psikis.

Sebelum melangkah kepada pembahasan tentang tazkiyat al-naf's (pembersihan jiwa ) menurut Al Ghazali, ada baiknya di ketahui lebih dahulu konsepsi Al-Ghazali tentang manusia dan jiwa manusia, apakah hakikat manusia itu ? Dan apakah yang di maksud dengan jiwa itu sendiri ? Hal ini disebabkan pembahasan tentang tazkiyat al-nafs terkait erat dengan masalah jiwa manusia itu sendiri.

Menurut Al-Ghazali, manusia itu tersusun dari unsur materi dan immateri atau jasmani dan rohani yang berfungsi sebagai abdi dan khalifah di bumi. Sungguhpun demikian, ia lebih menekankan pengertian hakikat kejadian manusia pada rohani dan jiwa manusia itu sendiri. Manusia itu pada hakikatnya adalah jiwanya. Jiwalah yang membedakan manusia dengan makhluk - makhluk Allah lainnya. Dengan jiwa, manusia biasa merasa, berfikir, berkemauan, dan berbuat lebih banyak. Tegasnya, jiwa itulah menjadi hakikat yang hakiki dari manusia karena: sifatnya yang latif, rohani, rabbani, dan abadi sesudah mati.

Keselamatan dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat banyak tergantung pada keadaan jiwanya. Sebab jiwa merupakan pokok dari agama, asas bagi orang yang berjalan menuju Allah, serta tempat bergantung ketaatan atau kedurhakaan manusia kepada Allah. Jiwalah yang pada hakikatnya taat, durhaka, atau ingkar kepada Allah. Jadi, unsur jiwa sangat di tekankan. Oleh Imam Al-Ghazali dalam konsepnya tentang manusia dari unsur badan ( materi ).

B. JIWA MENURUT PEMIKIRAN AL-GHAZALI.

Untuk menunjuk kepada pengertian jiwa itu ia menggunakan istilah yaitu an-nafs, al-ruh, al-`aql, dan al- qalb. Keempat istilah itu di tinjau dari segi kejiwaan hampir sama artinya tetapi dari segi fisik berbeda arti. Menurut Imam Al- Ghazali keempat istilah itu masing-masing memiliki dua arti yaitu arti khusus dan umum. Arti pertama, Al-qalb adalah al- qalb al-jasmani atau al-lahm al-sanubari, yaitu daging khusus yang berbentuk seperti jantung pisang yang terletak di sebelah dalam dada sebelah kiri. Qalb dalam pengertian yang pertama ini erat hubungannya dengan ilmu kedokteran dan tidak banyak menyangkut maksud agama serta kemanusiaan. Qalb itu juga ada pada hewan. Kedua, dalam pengertian jiwa yang bersifat latif, rohaniah, rabbaniah, dan mempunyai hubungan dengan qalb jasmani. Qalb dalam pengertian kedua inilah yang merupakan hakikat manusia karena sifat dan keadaannya yang bisa merasa, kemauan, berfikir, mengenal, beramal, ditunjukan perintah dan larangan, serta pahala dan siksa Allah.

Istilah kedua ar-ruh (roh). Arti pertama ruh adalah jisim yang latif ( halus ), dan bersumber di dalam qalb al–jasmani (kalbu jasmani ). Roh ini memancar ke seluruh tubuh melalui nadi, urat, dan darah. Cahaya pancarannya membawa kehidupan manusia, seperti ia dapat merasa, mengenal dan befikir. Ibaratnya seperti cahaya lampu yang menerangi seluruh rumah, cahaya hidup yang di hasilkan roh memancarkan sinarnya ke dalam tubuh.

Dalam istilah kedokteran arti pertama ini di sebut roh jasmani yang terbit dari panas gerak qalb yang menghidupi manusia. Arti kedua dari roh ialah roh rohani yang bersifat kejiwaan, yang memiliki daya rasa, kehendak, dan berfikir, seperti pengertian al-qalb yang kedua. Roh dalam pengertian kedua inilah yang dimaksud ayat al-Qur' an sebagai berikut:

وَيَسْئَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي
وَمَآأُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً

" Mereka bertanya kepada engkau tentang roh. Katakan: Roh itu urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi ilmu tentangnya, kecuali sedikit sekali ". ( QS Al-Isra’(17) : 85 )

Istilah ketiga adalah al - nafs (jiwa). Arti pertama al-nafs ialah kekuatan hawa nafsu yang terdapat dalam diri manusia yang merupakan sumber bagi timbulnya akhlak tercela. Inilah pengertian nafsu yang di maksud ahli tasawuf umumnya. Jika mereka mengatakan: " Mari berjihad melawan hawa nafsu!", maksudnya adalah berjihad melawan kekuatan nafsu syahwat perut, kemaluan (faraj), dan marah, ketiga syahwat itu merupakan sumber bagi timbulnya akhlak dan sifat tercela. Arti kedua al-nafs ialah jiwa rohani yang bersifat latif, rabbani, dan kerohanian.

Al-nafs dalam pengertian kedua inilah yang merupakan hakikat, diri, dan zat dari manusia. Al-nafs dalam pengertian kedua di atas memiliki tiga sifat dan tingkatan yang berbeda sesuai dengan perbedaan keadaannya masing-masing. Al-nafs yang memiliki ketenangan dan ketentraman dalam mengemban amanat Allah dan tidak mengalami kegoncangan disebabkan tantangan yang ditimbulkan oleh hawa nafsu di sebut al- nafs al-muthma'inat ( jiwa yang tenang). Kepada jiwa ini Allah SWT menghimbau dengan himbauan sebagai berikut:

يَاأَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ {} ارْجِعِي إِلىَ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَةً {} فَادْخُلِي فيِ عِبَادِي {} وَادْخُلِي جَنَّتِي

"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan perasaan ridha lagi diridhai, dan masuklah di dalam golongan hamba-hamba-Ku serta surga-Ku ".(QS.Al-Fajr (89): 29 ).

Kalau al-nafs dalam pengertian kedua kembali kehadirat Allah, maka al-nafs dalam pengertian pertama tidak, karena keadaannya yang tidak tenang dan menyerupai sifat syetan. Selanjutnya, al-nafs yang tidak memiliki ketenangan yang sempurna karena menjadi pendorong timbulnya hawa nafsu dan sekaligus juga penantang disebut al-nafs al- lauwamat, yaitu jiwa yang masih mau menyalahkan dirinya ketika lalai dalam mengingat dan beribadah kepada Allah. Kepada jiwa al-lauwamat ini Allah bersumpah dalam ayat berikut :

وَلآأُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ

Tidak! Aku bersumpah dengan al-nafs yang menyalahkan diri sendiri. (QS.Al-Qiyamat (75) :2)

Akhirnya, al-nafs yang menenggelamkan dirinya dalam kejahatan, mengikuti nafsu marah, syahwat, perut, dan godaan setan dinamakan al-nafs al-ammarat (jiwa yang jahat karena suka mendorong orang berbuat dosa ). Kepada jiwa ini Allah mengingatkan manusia sebagai berikut:

وَمَآأُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوء
ِ إِلاَّ مَارَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ

"Aku bukan membebaskan diriku dari kesalahan, sesungguhnya nafsu itu suka menyuruh orang berbuat jahat, kecuali orang (al-nafs) yang di rahmati Tuhanku sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ".(QS.Yusuf (12) : 53).

Nafsu yang suka menyuruh kepada kejahatan itu ialah al-nafs dalam pengertian pertama yang memiliki sifat tercela. Sedang al-nafs dalarn pengertian kedua adalah hakikat, diri, dan zat manusia karena memiliki sifat latif, rabbani, dan rohani. Istilah keempat ialah akal juga memiliki dua makna. Makna pertama ialah ilmu tentang hakikat segala sesuatu. Dalam pengertian ini akal dapat diibaratkan sebagai sifat ilmu yang bertemapt di jiwa ( al-qlabu ). Jadi, pengertian akal pada tingkat pertama ini di tekankan pada ilmu dan sifatnya. Aka1 dalam pengertian kedua adalah akal rohani yang memperoleh ilmu pengetahuan itu sendiri (al-mudrak Ii al-`ulum ).Akal itu tidak lain adalah jiwa (al-qalb) yang bersifat latif, rabbani, dan rohani yang merupakan hakikat, diri dan zat manusia.

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa istilah al- qalb, al-ruh, al-nafs, dan al-`aql dalam pengertian pertama berbeda, dan dalam perngertian kedua banyak persamaan. Dalam pengertian pertama al-qalb berarti kalbu jasmani, al- ruh yang berarti roh jasmani yang latif, al-nafs yang berarti hawa nafsu dan sifat pemarah, serta al-‘aql yang berarti ilmu. Sedang dalam pengertian kedua, keempat istilah itu sama artinya, yaitu jiwa yang bersifat latif, rabbani, dan rohani yang merupakan hakikat, diri dan zat dari manusia. Oleh karena itu, manusia dalam pengertian pertama (fisik) tidak kembali kepada Allah dan dalam pengertian kedua (jiwa) kembali kepada-Nya.

Dalam menjelaskan jiwa dalam pengertian kedua, Al-Ghazali mengibaratkan manusia sebagai sebuah kerajaan. Sebagai kerajaan rajanya adalah jiwa, wilayahnya adalah tubuh, serta alat indera dan anggota badan lainnya sebagai tentaranya. Akal sebagai wazir, serta hawa nafsu dan sifat marah sebagai polisinya. Raja dan wazir selalu berusaha membawa manusia kejalan yang baik dan di ridhai Allah. Sebaliknya, hawa nafsu dan sifat marah selalu mengajak manusia ke jalan yang sesat dan di murkai Allah. Agar tercipta ketenangan dan kebahagian dalam kerajaan (diri manusia), kekuasaan raja dan wazir harus berada di atas kekuasaan hawa nafsu dan sifat marah. Kalau sebaliknya yang terjadi , pertanda kerajaan itu akan runtuh dan binasa.

Dari perumpamaan di atas jelas bahwa jiwa dalam pengertian yang kedua merupakan hakikat, diri dan zat manusia karena fungsinya yang besar dalam kehidupan, penentu nasib baik atau buruknya manusia di dunia dan akhirat. lbarat kerajaan atau kendaraan, jiwa adalah raja atau pengemudi yang amat menentukan keselamatan atau kesengsaraan rakyat atau penumpangnya.

C.PEMBAGIAN JIWA MENURUT PENDAPAT AL-GHAZALI.

Al-Ghazali membagi fungsi jiwa dalam tiga bagian, sama dengan Ibnu Sina, yaitu jiwa tumbuh-tumbuhan (nabatah), hewan (hayawanat), dan manusia (al-Insan). Masing-masing jiwa ini memiliki daya yang tidak sama. Jiwa nabatah memiliki jiwa makan, tumbuh, dan berkembang. Jiwa hewan memiliki jiwa gerak, tangkap, dan khayal. Jiwa manusia memiliki jiwa daya akal, praktis, dan teoritis. Daya praktis erat hubungannya dengan hal-hal yang bersifat badani (amal), dan daya teoritis berkaitan dengan hal-hal yang bersifat abstrak (ilmu). Dengan kata lain, daya praktis menimbulkan akhlak, dan daya teoritis membuahkan ilmu. Daya teoritis terbagi menjadi empat tingkatan :

• Pertama, tingkatan akal materiil yang hanya mempunyai potensi untuk berfikir dan belum terlatih sedikitpun.
• Kedua, akal bi al-milkat yang telah terlatih berfikir tentang hal-hal yang abstrak.
• Ketiga, akal aktual yang dapat berfikir tentang hal-hal yang abstrak.
• Keempat, akal qudsi sebagai tingkatan akal yang paling tinggi, yaitu dapat berfikir tentang ha1-hal yang abstrak dengan mudah dan sanggup menerima limpahan ilmu pengetahuan dari Allah.

Dengan demikian, menurut Al Ghazali manusia sebagai makhluk Allah yang paling sempurna jika dibandingkan dengan makhluk lainnya. Sebagai halnya Ibnu Sina, Al-Ghazali juga berpendapat bahwa akhlak dan sifat seseorang sangat tergantung pada jenis jiwa yang berkuasa atas dirinya sehingga bisa saja akhlak dan sifat orang tersebut dapat menyerupai nabati dan hewan. Jika jiwa insani yang berpengaruh dan berkuasa, akan terbentuk manusia insanul kamil. Menurut Al-Ghazali, jiwa yang merupakan hakikat, diri, dan zat manusia itu adalah jauhar ( substansi ) rohani, bukan `aradh ( aksiden ) dan bersih dari sifat kebendaan. Jiwa mempunyai wujud sendiri yang terlepas dari badan. Wujud dan hakikat jiwa berasal dari alam gaib, sedang wujud dan hakikat badan berasal dari dalam materi. Badan itu bukan tempatnya jiwa karena sesuatu yang bersifat jauhar (substansi, zat, hakikat) tidak mendiami suatu tempat tertentu.

Badan itu adalah alat bagi jiwa, sedangkan badan tidak bisa memperalat jiwa. Karena terdapat perbedaan mendasar dan besar antara jiwa dan badan dalam wujud dan hakikat, dalam fungsi dan sifatnya juga terdapat perbedaan yang besar. Jiwa bersifat baqa, sedang badan dalam wujudnya bersifat fana.

Kalau Al-Ghazali menekankan unsur kejiwaan dalam konsepsinya tentang manusia, pandangnnya itu berarti hakikat, zat, dan inti kehidupan manusiat terletak pada unsur kejiwaannya. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika ia sangat menaruh perhatian pada soal kebahagiaan dan kesempurnaan jiwa serta ketinggian akhlak manusia dalam hidupnya. Menurut Hasan Langgulung, pandangan Al-Ghazali mengenai jiwa erat hubungannya dengan ilmu jiwa (psikologi) Pemikiran-pemikirannya tentang kejiwaan dalam Islam kalau dikaji secara mendalam akan sampai pada kesimpulan bahwa ia adalah " psikologi muslim terbesar".

Pengaruhnya dalam psikologi dan pemikirannya tentang pembagian jiwa dan fungsi dalam psikologi dan mempengaruhi psikologi modern. Pendapat tentang motivasi, pembentukan kebiasaan, kemauan, pengamatan, ingatan, dan daya khayal, merupakan sumbangan yang besar terhadap perkembangan psikologi modern. Lebih dari itu ia mengkaji jiwa sebagai substansi rohani dari manusia, suatu kajian yang belum mampu dilakukan para psikologi modern dewasa ini. Prof Dr.Hj Zakiyah Darajat mengenai ajaran Islam tentang kejiwaan di bandingkan dengan pemikiran Al-Ghazali tentang kejiwaan menyimpulkan bahwa Al-Ghazali adalah tokoh penting dalam ilmu jiwa atau " psikologi Agung " yang karya-karyanya tentang ilmu jiwa bersumber kepada Al-Qur'an dan hadits.

Kesimpulan tentang Al Ghazali tidak bisa dipisahkan dari ketinggian konsepsi Al Ghazali tentang manusia serta pendapatnya tentang jiwa dan akhlak. Sebab, ia tidak saja menganggap ilmu jiwa sebagai ilmu tingkah laku tetapi menganggapnya sebagai ilmu yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, temasuk aspek kehidupan manusia, dan aspek ketuhanan (Agama) merupakan bagian ilmu jiwa di samping ilmu akhlak.

Ditekankannya unsur jiwa dalam konsepsi Al-Ghazali tentang manusia sama sekali tidak berarti ia mengabaikan unsur jasmani manusia. Unsur ini juga dipentingkan karena rohani sangat memerlukan jasmani dalam melaksanakan kewajibannya beribadah kepada Allah dan menjadi khalifah-Nya di bumi. Seseorang tidak akan mungkin sampai kepada Allah dan beramal dengan baik selama jasmaninya tidak sehat.

Kehidupan jasmani yang sehat merupakan jalan kepada kehidupan rohani yang baik. Dengan menghubungkan kehidupan jasmani dengan kehidupan dunia, dunia akan menjadi ladang bagi kehidupan akhirat, dan merupakan salah satu manzilnya hidayah Allah. Karena kehidupan dunia (jasmani ) merupakan tangga bagi kehidupan akhirat (rohani), memelihara, membina, mempersiapkan, dan memenuhi keperluannya agar tidak binasa adalah juga perlu (wajib ).

Sungguhpun Al-Ghazali mengatakan bahwa wujud dan hakikat jiwa jauh berbeda dengan wujud dan hakikat badan. Hal ini berarti antara keduanya terdapat hubungan saling mempengaruhi yang terjadi melalui al- ruh. Jiwa harus berhubungan dengan badan karena manusia adalah makhluk metafisik.

Oleh karena itu, ia mengibaratkan manusia sebagai sebuah kerajaan atau kendaraan yang sedang berjalan yang menghendaki keseimbangan dalam perjalanannya. Katakanlah seperti raja dengan kerajaannya, begitu juga jiwa dengan badan. Warga kerajaan seperti daya - daya jiwa (nalar, nafsu, dan amarah) bekerja sama di bawah perintah raja. Sebagai rakyat (anggota-anggota badan) dan tentara (emosi) harus melakukan tugasnya sesuai dengan perintah jiwa.

Al-Ghazali menukilkan pendapat Ibnu Sina, Al-Farabi sebelumnya dalam bukunya " An-Najat wal Ahwal an-nafs":

• Akal potensial (hayulani) sebagai stimulasi rasional kepada manusia misalnya; untuk belajar menulis,
• AkaI property/kepemilikan ( bilmalakah ) pembenaran tanpa usaha; al-ilm adh-Dharuriyah, pengantar menuju hal-hal yang rasional yang kedua,
• Aka1 Aktual (bil fi'li) hal-hal rasional yang tersimpan serta dapat dimunculkan kembali kapan saja tanpa beban dan usaha.
• Akal mustafad ( akal kudus ) keluar dari daya untuk berubah menjadi aksi sebagai akibat hubungan dengan akal.

Akal mustafad, jenis hewan dan manusia mengalami proses kesempurnaan, daya manusia mirip dengan seluruh prinsip eksistensi. Akal haluyani (akal potensial) tidaklah sama pada manusia, jiwa manusia adalah berbeda dengan masing-masing orang sesuai keadaannya. Jiwa memancar dari prinsip-prinsip sesuai dengan kesiapan. Jiwa seorang yang dungu tidak pernah mengalami proses berfikir yang sama.

Dalam hal jiwa pada manusia Al-Ghazali sangat mengkaitkan dengan beberapa hal, Akal Teoritis, Dorongan dan Emosi, dan Kesatuan Jiwa Manusia :

Akal Teoritis, Dalam al-Qur’an surat an-Nur (24) ayat: 35 dinyatakan bahwa Allah SWT menegaskan sbb:

اللهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ

“Allah adalah cahaya bagi langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti lubang yang didalamnya ada pelita”

Adapun lengkapnya ayat tersebut adalah sebagai berikut :

اللهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لاَّشَرْقِيَّةٍ وَلاَغَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللهُ لِنُورِهِ مَن يَشَآءُ وَيَضْرِبُ اللهُ اْلأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

Al-Ghazali menafsirkan ayat tersebut dengan mengatakan Misykat (lubang yang tembus) adalah perumpamaan akal haluyani (akal potensial). Jika misykat siap ditempati cahaya, maka jiwa secara fitrah siap menerima cahaya akal. Dengan ide-ide yang tepat, maka ia bagaikan pohon memiliki cabang-cabang yang banyak, demikian juga ide mempunyai berbagai seni seni jika kuat bagaikan minyak zaitun yang meneranginya, bagaikan lampu.

Jika hal-hal rasional sampai kepadanya, maka ia adalah cahaya diatas cahaya atau akal mustafad diatas akal fitrah. Ia merupakan cahaya yang berasal dari amru rabbihi diatas cahaya kenabian. Allah memberi petunjuk untuk cahaya-Nya kepada orang-orang yang di kehendaki. Penisbatan akal aktif kejiwa layaknya penisbatan matahari ke mata kita. Mata dapat melihat karena cahaya matahari begitu pula jiwa dapat berfikir jika cahaya akal aktif menyinarinya.

Pengetahuan indra sebagai langkah awal untuk memperoleh pengetahuan rasional. Jiwa rasional menelaah gambar-gambar indrawi diberi makna-makna dalam prespektif akal aktif. Akal manusia dengan tabiatnya siap untuk menangkap semua stimulasi rasional. Perenungan jiwa terhadap hal-ha1 yang abstrak menjadi perenungan yang paling utama, paling jelas dan paling nikmat. Badan kadang-kadang menjadi penghalang terhadap kenikmatan yang paling mulia.

Dorongan dan Emosi, Emosi menjadi isi daya hasrat manusia, syahwat dan emosi untuk memuaskan segala kebutuhannya ; makan, minum, pakaian, menikah, mempertahankan diri, menolak bahaya, balas dendam. Al-Ghazali berpendapat 4 sifat dalam dirinya; Subuiyyah (hewan buas), Bahimiyah (hewan liar), Syaitoniyah (syetan,iblis), rabbaniyah (ketuhanan). Jika emosi menguasai dirinya maka ia akan berprilaku seperti binatang jika rabbaniyah ada pada dirinya, maka dia menganggap dirinya memiliki sifat ketuhanan, sangat cinta kekuasaan, kebesaran kediktatoran, lepas dari ubudiyah, merasa berilmu dan berpengetahuan padahal dirinya kosong akan ilmu, ambisi tinggi dan seterusnya. Empat sifat mengandung dorongan fitrah, bakat, maka Al-Ghazali memasukan akhlak yang bersumber dari dorongan bakat ke dalam empat sifat yang dimilki manusia.

Kesatuan Jiwa Manusia, Akal mustafad adalah pemimpin absolut yang dilayani semua daya jiwa yang lain, sebagai tujuan akhir. Akal aktual dilayani akal bilmalakah (akal kepemilikan), dilayani akal haluyani (akal potensial). Akal mustafad, akal aktual, akal bilmalakah, akal haluyani, semua itu dalam tingkatan akal teoritis. Akal teoritis, dilayani akal praktis yang mengatur badan dalam menyempurnakan akal teoritis.

Akal praktis dilayani wahan ( khayal dan fantasi ) dilayani 2 daya sebelumnya (daya hewan) dan daya sesudahnya (memori) daya fantasi dilayani 2 daya (daya khayalan dan fantasi) daya hasrat mentaati perintah-perintah daya fantasi yang mendorong bergerak. Khayalan dilayani indra kolektif dan panca indra, daya hasrat dilayani syahwat, dan emosi dilayani oleh penggerak aktif. Jiwa manusia bekerja dalam kerjasama total, satu kesatuan yang utuh melaksanakan berbagai fungsi kejiwaan. Urutannya ialah, akal mustafad, akal aktual, akal bilmalakah, akal haluyani, akal teoritis, akal praktis, wahan (khayal dan fantasi), daya hewan dan daya memori.

Metode Al-Ghazali dalam memperbaiki Prilaku

Al-Ghazali menjadikan kasus sehat dan sakit pada badan sebagai contoh untuk menjelaskan kasus sehat dan sakit pada jiwa. Normalitas pada akhlak merupakan kesehatan jiwa, dan kecenderungan untuk menjauhi normalitas adalah penyakit dan gangguan. Dari beberapa uraian Al-Ghazali tentang hubungan jiwa dengan badan bahwa yang dikehendakinya adalah terciptanya keserasian antara keduanya. Dengan kata lain, ia tidak menginginkan adanya ketidakserasian antara jiwa dalam konsep manusia dan pendidikan, penyebabnya tidak bisa terlepas dari situasi dan kondisi yang mengitarinya, seperti krisis yang melanda masyarakat di bidang agama, sosial, politik, intelektual, moral, dan spiritual, maupun krisis yang melanda dirinya sendiri tidak dapat merasakan kabahagiaan dengan kemewahan materiil yang dicapai. Ditekankannya unsur kejiwaan dalam memperbaiki masyarakat sama sekali tidak terlepas dari usahanya untuk mengharmoniskan kedua unsur kehidupan manusia tersebut.

Sebab, dalam perjalanan hidupnya, Al-Ghazali adalah sosok manusia yang tidak merasa puas dengan metode ilmu yang terlalu mementingkan logika. Ditengah-tengah kemasyhurannya sebagai ilmuwan di bidang filsafat, fiqih, dan ilmu pengetahuan umum lainnya, ia merasa kegelisahan batinnya. Di tengah kemewahan hidup dan kelengkapan fasilitas yang di perolehnya sebagai ahli ilmu kerajaan, jiwanya merasakan kehampaan yang mengakibatkannya menekuni dunia tasawuf secara total. Situasi dan kandisi itu sangat mempengaruhi corak pemikirannya tentang jiwa dan hakikat kehidupan. Konsep insanul kamil (manusia sempurna) menurut Al Ghazali adalah muthi'at (orang yang taat kepada Allah dan rasul-Nya). Ketaatan dan insanul kamil adalah dua nama yang wujud, hakikatnya bersamaan, dan sama sekali tidak terdapat perbedaan yang prinsipil.Alhamdulillah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar