Senin, 12 Oktober 2009

DINAMIKA PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM K.H.AHMAD DAHLAN

Oleh Ridjaluddin FN.
Tanggal ; 12 Oktober 2009

Perumusan tujuan pendidikan dalam persyarikatan Muhammadiyah didasarkan pada orientasi tajdid dan kondisi sosio kultural umat Islam pada saat kemunculan nya.Persyarikatan Muhammadiyah sebagai suatu gerakan Islam, amr ma’ruf nahi munkar dengan etos kerja yang disebut tajdid, pembaharuan dalam Islam pertama kali didirikan pada tanggal 10 Nopember 1912.M bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1330.H, oleh Kyai Ahmad Dahlan di Yogyakarta dengan diiringi pesta kecil yang bertempat di Jalan Malioboro Yogyakarta dan dihadiri oleh 60 sampai 70 orang dari kalangan para haji, priyayi, pamong praja, orang umum dan pengurus pergerakan Boedi Oetomo.Tujuan didirikan persyarikatan Muhammadiyah ini adalah untuk membebaskan umat Islam dari kebekuan dalam segala bidang kehidupannya, dan praktek-praktek agama yang menyimpang dari kemurnian ajaran Islam.

Saat munculnya persyarikatan Muhammadiyah,bangsa Indonesia tengah berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda, tahun 1912-1942 dalam suasana yang kebanyakan umat Islam berada dalam kebodohan, keterbelakangan dan penindasan-penindasan penjajah.Kalaupun waktu itu terdapat lembaga pendidikan Islam, keberadaannya tidak lagi dapat memenuhi tuntutan zaman, akibat mengisolasi diri dari pengaruh luar.

Bangsa Indonesia yang menerima pendidikan dari Barat terbatas pada calon-calon pamong praja. Anak Aristokrat ada yang dididik dalam rumahnya sendiri,pendidikannya ditujukan untuk mempertinggi budi pekerti, akhlakkul karimah dan kepandaian bergaul, ditambah dengan adat–istiadat nenek moyang. Bagi wanita kalau dikatakan belajar, pelajarannya terbatas kepada pengetahuan kehidupan dalam rumah tangga agar nantinya menjadi istri yang baik. Adapun rakyat jelata umumnya tidak terdidik, kalau mereka ingin belajar merekapun masuk pondok pesantren.

Sementara pondok pesantren sendiri menolak semua pengaruh yang datang dari negeri Barat secara total, sampai-¬sampai cara berpakaian, huruf latin dan termasuk ilmu-ilmu yang datang dari Barat ditolaknya, maka lengkaplah isolasi, mengucilan terhadap kehidupan modern.

Adanya dikotomi, pemisahan antara pendidikan agama dan pendidikan sains Barat, terlihat pula pada orientasi berikut yaitu di satu pihak lembaga-lembaga pendidikan Islam saat itu tidak bisa menghasilkan ilmuwan yang mempunyai otoritas karena mementingkan masalah keakhiratan semata, dan di pihak lain pendidikan yang diselenggarakan oleh kolonial penjajah Belanda sama sekali tidak memperhatikan masalah-masalah kehidupan keakhiratan, hanya mementingkan kehidupan keduniawiaan. Akibatnya terjadilah pemisahan, dikotomi yang sangat lebar antara lulusan lembaga pendidikan Islam dan lulusan sekolah Barat, yang sekuler,(menjauhkan ajaran Islam, pendangkalan ajaran Islam.)

Pendidikan Islam yang dalam hal ini diwakili oleh pondok pesantren telah tersebar sebelum kedatangan penjajah kolonial Belanda ke Indonesia. Ia merupakan lembaga pendidikan tingkat menengah dan tinggi. Pendidikan Islam untuk tingkat permulaan diberikan di masjid, langgar, musallah atau surau. Santri diberi kebebasan memilih bidang studi dari guru yang diingininya. Ada santri senior yang diberi wewenang untuk mengajar. sorogan dan bandongan atau weton. Di pondok pesantren tidak ada sistem kelas, tidak ada ujian atau pengontrolan (evaluasi proses belajar) kemajuan santri dan tidak ada batas lamanya belajar [kelas]. Penekanannya pada kemampuan menghafal saja, tidak merangsang santri untuk berdiskusi dengan sesama santri. Cabang-cabang ilmu yang dipelajari terbatas pada ilmu-ilmu agama Islam yang meliputi hadits, musthalah hadits, fikih sunnah/ushul fikih, ilmu tauhid, ilmu tasauf, ilmu mantik, ilmu falaq dan bahasa Arab.

Kyai Ahmad Dahlan, melihat kondisi sosial pendidikan umat Islam pada waktu itu, tergerak untuk melakukan aktivitas yang menerapkan sistematika kerja organisasi ala Barat. Melalui pelembagaan amal usahanya, Kyai Ahmad Dahlan melakukan penangkalan kultural (budaya) atas penetrasi pengaruh kolonial Belanda dalam kebudayaan, peradaban dan keagamaan, utamanya adalah intensifnya upaya Kristenisasi yang dilakukan misi zending dari Barat.

Kondisi objektif yang mendorong lahirnya persyarikatan Muhammadiyah adalah juga kenyataan terhadap kemajuan zending Kristen dan misi Katolik. Penyebaran agama Kristen dan agama Katolik mendapat dukungan dari pemerintahan kolonial Belanda. Untuk menyiarkan agama mereka di kalangan masyarakat Indonesia, terutama di tanah Jawa. Dengan peralatan yang cukup canggih dan organisasi yang teratur berujud sekolah-sekolah, rumah-rumah sakit dan lain sebagainya memperoleh kemajuan besar dalam merebut hati rakyat. Sebaliknya umat Islam dalam kondisi kemunduran apalagi alat-alat tabligh, penyiaran yang digunakan masih secara kuno, tempat-tempat pendidikan Islam masih ketinggalan zaman.

Usaha-usaha pembaharuan Islam bidang pendidikan yang dilakukan Kyai Ahmad Dahlan dan para pemimpin persyarikatan Muhammadiyah meliputi dua segi yaitu segi cita-cita dan tehnik pendidikan dan pengajaran.

Kyai Ahmad Dahlan dianggap sebagai tokoh pembaharuan Islam yang cukup unik,dan dikagumi karena usaha pembaharuan Islamnya merupakan upaya terobosan-terobosan terhadap masalah-masalah umat yang mendesak untuk diatasi. Ia juga tidak memiliki background pendidikan Barat, tetapi gagasannya yang maju membuka lebar-lebar pintu ijtihad, (kesungguhan perubahan dalam Islam) dan melarang pengikutnya bertaklid, (mengikuti tanpa mengetahui alasan dalilnya yang tepat).

Format pembaharuan dalam Islam persyarikatan Muhammadiyah dalam bidang pendidikan Islam, tercermin dan dapat dilihat dari ide-ide dasar yang merupakan cita-cita penyelenggaraan pendidikan, seperti yang dituturkan pendirinya yaitu konsepsi kyai intelek dan intelek kyai. Kepada beberapa muridnya ia menegaskan dengan kata-kata:

“Dadiyo Kiyai sing kemajuan, lan kanggo Muhammadiyah” yang artinya, jadilah ulama yang berpikir maju, dan jangan berhenti untuk kepentingan pengabdian kepada organisasi Muhammadiyah.

Konsep tentang kyai intelek dan intelek kyai sebagai tujuan yang hendak dicapai dari produk pendidikan Muhammadiyah, mengandung maksud bahwa pendidikan diarahkan dalam pembentukan manusia muslim yang sempurna baik budi pekertinya, patuh dan alim dalam melaksanakan ajaran agamanya, luas dalam pandangan dan paham masalah ilmu keduniaan dan bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakatnya.

Sebagai organisasi dakwah da pendidikan, persyarikatan Muhammadiyah mengharapkan agar dapat membentuk manusia muslim yaitu manusia yang beridentitas Islam dengan ciri khas dapat mengamalkan ajaran Islam yang bersumber pada al-Qur’an dan Sunnah Rasul.

Tegasnya,tujuan penyelenggaraan pendidikan di kalangan persyarikatan Muhammadiyah adalah menanamkan semangat Islam (spirit of Islam) dalam nuansa wawasan keilmuan (science). Sehingga hasil dari pendidikan Muhammadiyah adalah manusia-manusia yang berhati penuh dengan iman dan taqwa. Dari pemikirannya melimpah berbagai pengetahuan dan di tangannya tergenggam sejuta ketrampilan. Maka oleh sebab itu, tidaklah sasaran persyarikatan Muhammadiyah dalam pendidikannya mencetak ilmuan agama saja tetapi ilmuan yang berjiwa agamis Islamy.
B. Sistem Pendidikan Islam KH.Ahmad Dahlan

Sistem pendidikan yang dikembangkan persyarikatan Muhammadiyah bersifat kreatif dalam mengintregasikan tuntutan idealisme, korektif dan modernis. Aspek idealisme merupakan substansi dari pendidikan persyarikatan Muhammadiyah, sedangkan aspek korektif, inovatif dan modernis merupakan instrumennya. Secara idealistis Muhammadiyah konsisten terhadap upaya menegakkan ajaran Islam yang bersumber dari al-¬Qur'an dan hadits, menghilangkan bi’dah dan khurafat serta komitmen terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.

Aspek korektif dan inovatif terlihat pada adanya usaha-usaha mengembangkan pondok pesantren dan dalam memenuhi tuntutan modernisasi, dengan mencangkok sistem pendidikan yang bersifat sekuler dalam bentuk persekolahan.

Usaha modernisasi dan pembaharuan dalam bidang pendidikan Islam yang dilakukan persyarikatan Muhammadiyah pada awal kelahiran organisasi ini, nampak dari pengembangan kurikulum melalui dua jalan yaitu : Mendirikan tempat-tempat pendidikan dimana ilmu agama dan ilmu umum diajarkan bersama-sama. Memberikan tambahan pelajaran agama pada sekolah sakolah umum yang sekuler. Usaha yang dirintis Kyai Haji Ahmad Dahlan memperbaharui sistem pendidikan Islam dan kurikulum mata pelajaran seorang aktifis Muhammadiyah Rader Sasrosugondo menceriterakan yang dimuat dalam majalah Adil No. 51 tahun 1936 sebagai berikut :

Sepanjang penganggapannya para santri di Kauman, dan di pondok lainnya, pada ketika itu, bahwa anak atau orang yang pernah bersekolah itu sudah tidak Islam lagi, bahkan dianggap sudah memasuki agama Nasrani. Oleh karena itu para santri ataupun haji tidak bisa leluasa perhubungannya dengan priyayi-priyayi gupernumen tersebut.
Para santri sama merendahkan priyayi-priyayi di dalam hati. Sebaiknya para priyayi-priyayi berganti sama merendahkan pada dirinya santri-santri, sebabnya mereka itu dianggap rendah pengetahuannya tentang pelajaran di bangku sekolah. Misalnya soal berhitung, ilmu bumi, sejarah, ilmu alam,ilmu ukur dan lain sebagainya. Mereka mengira bahwa bahwa santri itu terutama hanya pandai soal agama belaka. Lebih-lebih priyayi-priyayi itu perasaannya sudah memegang ilmu sesungguhnya. Mengerti tentang seluk beluknya hidup mengerti tentang yang dinamai Allah yang sejati dari sebab ajarannya guru yang disebut guru kasampurna, mengajar ilmu tua.

Jadi dua golongan di atas dalam hati satu sama lain sama rendah merendahkan. Setelah Kyai Haji Ahmad Dahlan sudah bisa berkenalan dengan priyayi-priyayi sementara banyak, para priyayi-priyayi sama mengerti bahwa Kyai Ahmad Dahlan itu pengetahuannya bukan saja tentang agama, tetapi beliau mengerti berbagai macam pengetahuan juga. Malahan pengetahuan yang diajarkan di sekolah rendah itu atau di sekolah bakal guru, Mulo dan A.M.S. ada sementara yang termasuk rendah kalau dibandingkan sama pengetahuannya Kyai Ahmad Dahlan, misalnya hal perbintangan, kimiyah dan ilmu alam.

Demikianlah itu lalu kyai Haji Ahmad Dahlan bisa mengerti atau merasa bahwa para priyayi itu ada yang melebihi di atasnya santri-santri tentang luasnya pengetahuan, biarpun masih rendah. Segala-galanya serba teratur di atasnya pada santri, hanya tentang berla¬kunya kebutuhan,para priyayi banyak yang menunjuk¬kan korat-koritnya.
Perkara yang baik yang terdapat pada kedua golongan tadi menurut kehendak Kyai Haji Ahmad Dahlan akan diletakkan pada santri-santri dan priyayi-priyayi yang termasuk bangunan baru. Sedang cacatnya yang buruk hendak disingkirkan. Oleh karena itu maka Kyai Haji Ahmad Dahlan berhajad hendak menggabungkan sekolahan dengan pondok. Penggabungannya demikian :
Caranya mengajar di pondok-pondok diikhtiarkan sebagai di sekolah-sekolah dengan memakai bangku, meja tulis alat lainnya. Lain dari pada itu yang diajarkan bukan melulu soal agama saja dan juga diajarkan pengetahuan sekolah yang paling kurang menyamai sama perguruan gupermen. Juga di sekolah lainnya yang sudah ada akan didaya-upayakan supaya bisa diberi pelajaran agama kepada murid-muridnya.

Walaupun usaha-usaha Kyai Haji Ahmad Dahlan mendapat tantangan dan reaksi yang keras dari kebanyakan umat Islam waktu itu, bahkan ditentang oleh keluarganya sendiri, akan tetapi ia tidak surut dan mundur dalam mewujudkan model pendidikan ala baru bagi umat Islam. Hal ini seperti yang dituturkan Raden Sasrosugondo simpatisan Muhammadiyah sebagai berikut :

Sering di dalam perjamuan Kyai Dahlan mesti membicarakan tentang baiknya peraturan di dalam perguruan Gupermen. Orang-orang sama dipancing supaya sama tertarik pada buahnya perguruan dan peraturan sekolahan. Para santri yang mendengarkan keterangan itu hampir semuanya sama membantah, sebab mereka sama tidak cocok sama caranya memberi pelajaran di sekolah gupermen itu termasuk bid’ah artinya cara ketika hidupnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Cara baru yang dibicarakan oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan tadi disebut cara yang jelek.

Kyai Ahmad Dahlan dalam menghadapi tantangan, baik yang datang dari para santri maupun sanak familinya sendiri, senantiasa bersabar dan istiqomah dengan memberikan penjelasan bahwa meningkatkan sarana dan menyempurnakan metoda dalam penyelenggaraan pendidikan tidak termasuk perbuatan bid’ah (menambah-nambah dalam pelaksanaan agama Islam) . Meskipun tidak ada bantuan sedikitpun dari mereka, namun tetap tidak ada dukungan terhadap cita-cita pembaharuan pendidikan dalam Islam itu. Dengan tekad yang kuat, tanpa menunggu dukungan dan bantuan orang luar, ia mendirikan sekolah sendiri. Dengan mengambil tempat di serambi, pinggiran rumah tinggalnya, diletakkan bangku-bangku dan meja tulis untuk tempat belajar para murid. Belajar dengan cara sedemikian pada saat itu sangat asing di kalangan para santri dan dianggap bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Dengan upaya pembaharuan pendidikan Islam seperti itu, sanak saudara, handai taulan dan keluarga yang semula dekat, semakin menjauh. Demikian pula para kenalan, bahkan hampir semua penduduk Kauman Yogyakarta tidak seorangpun yang mendukung usaha kyai. Mereka yang semula sering membantu dalam hal-hal yang berhubungan dengan masalah keagamaan ataupun perdagangan semakin menjauhkan diri dan tidak mau bicara lagi. Namun demikin, keadaan seperti itu tidak melemahkan tekad Kyai Haji Ahmad Dahlan untuk melanjutkan usahanya.

Untuk kelancaran jalannya pendidikan sekolah tersebut, Kyai Haji Ahmad Dahlan pertama sekali mengusahakan adanya subsidi diakui sebagai milik Boedi Oetomo cabang Yogyakarta.

Pembaharuan sistem pendidikan Islam yang dilakukan Kyai Haji Ahmad Dahlan terlihat dari pengembangan bentuk pendidikan dari model pondok pesantren dengan menerapkan metode sorogan, bandongan dan wetonan menjadi bentuk madrasah atau sekolah dengan menerapkan metode belajar secara klasikal. Adapun tujuan pendidikan lebih difokuskan pada pembentukan akhlak manusia.

Dalam perkembangan selanjutnya pendidikan yang diselenggarakan persyarikatan Muhammadiyah, terutama dalam bentuk sekolah mendapat dukungan dari kalangan kaum muslim yang memiliki status sosial ekonomi menengah ke atas. Dan didalamnya diintegrasikan ilmu umum dan ilmu agama, dengan harapan mampu menghasilkan cendekiawan-cendekiawan muslim yang mampu berkiprah dalam banyak bidang keahlian.

C. Kurikulum Pendidikan Islam KH.Ahmad Dahlan

Pendidikan yang dikembangkan persyarikatan Muhammadiyah tidak hanya menitik beratkan segi-segi moral dan keagamaan saja, akan tetapi juga mengembangkan kecerdasan, intelektual. Oleh karena itu, muatan kurikulum dalam sekolah Muhammadiyah lebih memberikan muatan yang besar kepada ilmu-ilmu umum, sedangkan dalam aspek keagamaan minimal alumni sekolah Muhammadiyah dapat melaksanakan ibadah shalat lima waktu, dan shalat-shalat sunatnya, membaca kitab suci al-Qur’an dan menulis huruf Arab (al-Qur’an) mengetahui prinsip-prinsip akidah dan dapat membedakan bid’ah, khurafat, syirik dan muslim yang muttabi’ dalam pelaksanaan ibadah.

Pengembangan kemampuan akhlak dan pembekalan peserta didik dalam kehidupannya dijadikan program prioritas dalam pendidikan Muhammadiyah karena anggapan bahwa pendidikan akal harus diutamakan dan kebutuhannya harus dipenuhi. Kebutuhan akal tiada lain adalah ilmu pengetahuan. Pendidikan dan pengajaran bagi umat Islam harus berorientasi kepada pembinaan akalnya. Pengajaran yang berguna dalam mengisi akal itu lebih dibutuhkan oleh manusia daripada makanan yang mengisi perutnya, dan mencari harta benda dunia itu tidak lebih payah dari mencari pengetahuan yang berguna dalam memperbaiki perbuatan dan kelakuan.

Lembaga-lembaga pendidikan Islam pada waktu itu lebih mementingkan hafalan dalam proses pendidikannya, maka persyarikatan Muhammadiyah menyatakan bahwa pendidikan akal adalah merupakan kebutuhan hidup yang terpenting.

Pandangan Kyai Haji Ahmad Dahlan tentang pendidikan Islam bertitk tolak dari upaya pengembangan akal melalui proses pendidikan yng pada akhirnya akan bermuara pada tumbuhnya kreatifitas dan memberikan implikasi bagi warga Muhammadiyah untuk memiliki semangat tajdid, pembaharuan pendidikan Islam

Pendidikan Muhammadiyah sejak awal menekankan dan mendorong kreatifitas. Hal ini sejalan dengan jiwa pembaharuan yang dicita-citakan yaitu mengembangkan nalar, menolak bid’ah, khurafat dan taqlid. Muhammadiyah menanamkan utamanya adalah ijtihad. Hal ini menjadikan produk didikan Muhammadiyah menampilkan wawasan yang luas, tidak picik, tidak tradisional, toleransi tetapi bukan sinkretis lebih jauh lagi umumnya menjadi manusia berpandangan bebas dan tidak bersedia didikte.

Jalur pendidikan yang dikembang kan warga Muhammadiyah meliputi jalur sekolah atau madrasah dan jalur luar sekolah. Jalur sekolah yang terdiri dari Madrasah Mualimin Muhammadiyah dan sekolah umum dengan menambah pelajaran agama Islam berkisar antara 10-15 % dalam kurikulumnya.

Sedangkan jalur luar sekolah diselenggarakan kursus-kursus yang khusus memberikan pelajaran agama Islam, seperti kursus Mubalighin, Wustho Mualimin, Zu’ama, Zaimat dan majlis-majlis taklim.

Lembaga pendidikan madrasah yang sebelumnya merupakan pondok pesantren Muhammadiyah memberikan pelajaran agama dan ilmu umum secara bersama-sama. Adapun pendidikan agama yang diajarkan terutama yang bersumber dari kitab-kitab fiqh dari madzhab Imam Syafi’i, ilmu tasawuf karangan Imam Ghazali, tauhid dari kitab Risalah Tauhid dan kitab tafsir Jalalain dan tafsir al-Manar. Sedangkan pengetahuan umum meliputi ilmu sejarah, ilmu hitung, menggambar, bahasa Melayu, bahasa Belanda dan bahasa Inggris.

Pendidikan agama Islam yang diberikan pada sekolah-sekolah di Muhammadiyah terangkum dalam mata pelajaran Al-Islam.Dan Kemuhammadi yahan yang merupakan sistematisasi dan metodologis interaksi formal usaha pengarahan perkembangan manusia sebagai ‘abid dan khalifah yang terikat dalam sistematika gerakan Islam dan dakwah.

Pendidikan dalam Muhammadiyah menerapkan sekolah dengan memberi muatan pendidikan keagamaan. Hal ini terlihat dari data yang dikemukakan Delier Noer sebagai berikut :

Pada tahun 1925 dalam bidang pendidikan Muhammadiyah memiliki delapan Hollands School, sebuah sekolah guru di Yogyakarta, 32 sekolah dasar lima tahun, sebuah schakelschool, dan 14 buah, yang seluruhnya sebanyak 119 orang guru dan 4.000 murid. Pada tahun 1929. organisasi ini telah mempublikasikan penerbitan sejumlah 700.000 buku buku dan brosur, kemudian pada tahun 1938 telah memiliki 31 perpustakaan umum dan 1.774 sekolah.

Nampak dari data-data di atas, sekolah Muhammadiyah lebih menekankan pengembangan ilmu umum dengan peranan sekolah sebagaimana yang berkembang sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat. Kondisi seperti ini merupakan hal yang baru pada waktu itu.

Dalam perkembangan kondisi tersebut dapat dikatakan sebagai hal yang biasa, karena hampir semua lembaga pendidikan telah mengintegrasikan ilmu umum dan ilmu agama dalam kurikulum pendidikannya. Terlebih-lebih dewasa ini telah ada Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (SPN tahun 2003).

Pendidikan umat Islam di Indonesia pada awal abad ke 20 masih dalam keadaan belum memprioritaskan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, mereka belum ada kesanggupan untuk melaksanakan ajaran Islam dengan sebenar-benarnya. Bahwa persyarikatan Muhammadiyah berpandangan hanya dengan melalui pendidikan Islam yang diterapkan dengan metode yang tepat, kiranya ketertinggalan umat Islam akan dapat terkejar.

Persyarikatan Muhammadiyah pada dasarnya tidak terpaku pada salah satu cara dalam mencapai tujuan pendidikan. Hal ini terlihat dari upaya yang dilakukan warga Muhammadiyah dalam mengembangkan pendidikan dengan melalui berbagai cara, baik formal maupun non formal. Yang penting,bahwa pengembangan tersebut dititik beratkan pada memberikan bimbingan agar peserta didik dapat bertindak secara aktif, kreatif, inovatif dan dinamis dalam kehidupannya.

Dengan demikian, persyarikatan Muhammadiyah telah membawa ide-ide baru pada awal kelahirannya. Namun pembaharuan Islam yang dilaksanakan berorientasi pada bidang pendidikan, yang meliputi kelembagaan, metode dan kurikulum. Sedangkan dalam bidang pemikiran keagamaan, persyarikatan Muhammadiyah masih tergolong kepada tradisional.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar