Selasa, 27 Oktober 2009

Pandangan Ibnu Khaldun dalam Pembaharuan Islam

PANDANGAN IBNU KHALDUN
DALAM PEMBAHARU PENDIDIKAN ISLAM
DR.H.Ridjaluddin.F.N., M.Ag,
27 / 10 / 2009

Outobiografi Ibnu Khaldun
Ibn Khaldun secara luas dikenal sebagai peletak batu pertama alias pelopor dan sekaligus bapak ilmu sosiologi dan sejarah sains. Dan ia lebih dikenal lagi karena buku Muqaddimah-nya atau di Barat sana dikenal dengan 'Prolegomena.

Ibn Khaldun sebenarnya punya nama asli Abdullah al Rahman Ibn Muhammad. Lahir di Tunisia dari keluarga kelas bangsawan di tahun 723 Hijriah atau tahun 1332 SM. Keluarganya sendiri bukan berasal dari Tunisia, mereka hijrah ke Tunisia dari Seville, wilayah Spanyol yang berpenduduk Islam.

Ibn Khaldun banyak belajar di Tunisia dan Fez, ia mempelajari Qur'an, Hadits, cabang-cabang ilmu Islam lainnya seperti ilmu teologi dialektikal dan hukum-hukum Islam. Dengan semangat belajar dan keingintahuannya yang besar, ia juga mempelajari matematika, astronomi, filosofi dan literatur Arab. Ini yang menjadikannya dalam usia belasan sudah bekerja pada Sultan Barquq, seorang Kaisar di Mesir.

Sebelum dikenal sebagai penulis buku yang kelak menjadi adi karya dalam sejarah dunia, Ibn Khaldun banyak menghabiskan waktu, tenaga dan kepandaiannya bergelut dengan dunia politik praktis. Ia bekerja untuk pemerintah Tunisia dan Fez (Maroko), Granada (Islam Spanyol) dan Biaja (di Afrika Utara). Tahun 1375 ia mengasingkan diri ke Granada, Spanyol, dari Afrika Utara karena melarikan diri dari Turmoil di Afrika Utara.

Sayangnya, karena kegiatan politiknya di masa lalu, pemerintah Granada menolaknya. Ibn Khaldun kemudian menuju Aljazair. Selama empat tahun ia tinggal di sebuah desa kecil bernama Qalat Ibnu Salama. Di sana pula ia mulai menulis Muqaddimah. Karya ini kelak menempatkan namanya di antara nama-nama besar sejarawan, sosiolog dan filosof dunia.
Muqaddimah telah membuat intelektual dunia dulu dan kini, di Timur dan Barat geleng-geleng kepala dibuatnya. Hasil pemikirannya yang sangat cemerlang, ditulisnya dalam buku itu. Bagian pertama bukunya, Al 'Ibar, sangat tajam, rasional dan analitik meninjau masalah-masalah manusia dan sejarah.

Pada buku inilah Ibnu Khaldun, menurut banyak intelektual dunia, telah memberi arah pada ilmu-ilmu psikologi, ekonomi, lingkungan hidup dan sosial. Beliau juga menganalisa hubungan dinamis dan menggambarkan perasan-perasaan antar manusia. Al 'Asabiyya, memberi pandangan baru pada kekuatan penduduk dan politik.

Ibnu Khaldun selain terkenal sebagai penulis sejarah dan manusia, dikenal juga sebagai seorang kritikus sejarah yang disegani. Ia pula yang mengenalkan ilmu analisa tentang peradaban manusia. Tak hanya itu faktor-faktor yang mendukung ilmu analisa ia kenalkan pula.

Karena hal in pula ia menemukan ilmu-ilmu baru yang berkaitan dengan perdaban manusia. Misalnya, ilmu pembangunan sosial yang saat ini biasa kita sebut dengan ilmu sosiologi.

Ada satu satu pernyataan atau argumen Ibnu Khaldun yang sampai saat ini masih dibuat pijakan banyak ilmuwan. "Sejarah ada subyek menuju hukum-hukum universal," begitu katanya. Ini adalah satu contoh bagaimana Ibnu Khaldun dijadikan rujukan dunia sosiologi internasional.

Pemikiran-pemikiran Ibnu Khaldun saat itu sebenarnya sudah sangat maju, misalnya saja ia berpendapat bahwa kehidupan beragama adalah satu hal pokok yang mampu menyatukan jazirah Arab saat itu. Tahu sendiri kan, berapa banyak suku dan bani yang ada di sana. Apalagi tipikal orang padang pasir kan panas-panas bawaannya.

Tak hanya itu, Ibnu Khaldun pun jauh hari sudah menyimpulkan beberapa penyebab kehancuran sebuah negara atau pemerintahan.

"Ketidakadilan, kekecewaan rakyat dan tirani adalah langkah awal kehancuran sebuah negara,"

begitu katanya. Dan saat ini banyak contoh yang bisa kita lihat betapa tiga hal yang disebutkan Ibnu Khaldun berabad-abad lalu benar adanya.

Selain sebagai sejarawan dan sosiolog, Ibnu Khaldun dikenal pula sebagai seorang perintis pendidikan modern. Ia seorang yang sangat percaya pada kekuatan akal bukan kekuatan fisik. Menurutnya kekuatan fisik hanya membuat seseorang menjadi malas, hipokrit dan pembohong besar.

Ibnu Khaldun hidup di Mesir pada zaman Mesir sedang mengalami kemerosotan. Pendidikannya anjlok, moralnya bobrok dan sebagian besar masyarakat tidak merasa perlu belajar dan berhati-hati. Ini yang membuat Ibnu Khaldun banyak menghabiskan waktu mengumpulkan data, mengingatkan orang tentang pentingnya peradaban.

Pemikiran dan analisa Ibnu Khaldun, kelak banyak memberikan warna dan pengaruh pada dunia ilmu sosial, politik, sejarah, filosofi dan pendidikan. Kini berabad-abad setelah ia wafat, pemikirannya yang cemerlang serta idenya yang brilian masih bisa kita rasakan. Satu hal yang menjadikannya seperti itu, ia belajar Islam dengan benar.

Corak Pemikiran Falsafi Ibnu Khaldun
Tidak dapat disangkal, bahwa setiap pemikir pada dasarnya adalah dibatasi oleh kondisi real yang mengelilinginya. Biarpun demikian, kebesaran mereka justeru karena dalam keterbatasan itu. Mereka masih dapat menampilkan gagasan-gagasan spektakuler dan menghasilkan pendapat-pendapat besar serta teori-teori yang gaungnya masih terdengar jauh berabad-abad dari masa hidupnya.

Ibnu Khaldun hidup di abad ke 14. Pendidikan yang ditempuhnya, latar belakang intelektualisme yang mengitarinya dan pengalaman-¬ pengalaman hidupnya mempengaruhi corak pemikiran yang menjadi ciri khas metode ilmiyahnya.

Suatu ciri yang spesifik latar belakang kehidupan Ibnu Khaldun, bahwa ia dilahirkan dari keluarga politikus dan intelektual sekaligus. Suatu latar belakang kehidupan yang langka pada saat itu. Tradisi intelektual ia warisi dari keluarganya. Dengan bakat genius serta pengalamannya yang matang di bidang intelektualisme dan sosial membentuk kerangka berpikirnya dalam memformulasi teori-teori ilmu sosial dan pendidikan.

Meskipun hukum-hukum realitas telah terpola di dalam kerangka fikir ilmiyahnya, akan tetapi gagasan-gagasannya tidak bisa dipisahkan dengan al-Qur'an sebagai akar fikir Islamnya. Konstruksi teoritiknya atas dasar observasi yang realistis, juga berdasarkan pemikiran filosofis yang dijiwai al- Qur'an. Iqbal seorang filosof modern, membuktikan hal tersebut dengan mengatakan ;

"Sebenarnya seluruh jiwa Muqaddimah, umumnya aspirasi yang diterima pengarangnya dari ruh al-Qur'an."

Di dalamnya karyanya tersebut tidak dijumpai kesan sebagai seorang scientist konvensional yang memakai fakta-fakta empirik dan argumentasi rasional yang kontradiktif dengan otoritas. Dalam setiap analisisnya yang tajam dan rasional, ia senantiasa mengkonsultasikan solusinya dengan wahyu. Wahyu tidaklah ia letakkan sebagai premis minor dalam tata fikir yang ia kembangkan, tetapi sebagai premis mayor yang menjadi referensi setiap pemecahan masalah. Kenyataan memang setiap solusi ilmiyah yang tepat (benar) senantiasa sejalan dengan wahyu

Dalam hat ini, Ibnu Khaldun yang realis dan rasionalis, juga idealis sekaligus. Dalam banyak hal Muqaddimah tampak begitu rasional, di samping tidak mengesampingkan naql. Pada dirinya terdapat paduan yang serasi antara rasio dan naqli.Ia sendiri adalah pemikir yang teguh beriman dan kommitted terhadap ajaran agama. Tetapi berbeda dengan pendahulu lain, ia mendudukkan secara proporsional antara otoritas wahyu dan rasio.Ia tidak mau mencampuradukkan segala hal dan menghubungkan segalanya dengan ketentuan agama, yang sering hanya bersifat dipaksakan (iustifikasi). la hanya mau melihat masalah dunia dengan penalaran ilmu. Atas dasar itu konsep Aristoteles tentang logika dapat disetujuinya, tetapi konsepnya tentang ketuhanan (teologi) menurut Ibnu Khaldun tidak punya dasar yang kuat. Sebab akal mempunyai kemampuan terbatas rnenjelajahi yang Ilahiyat. Dalam hat ini Ibnu Khaldun berusaha mendudukkan, bahwa filsafat (Islam) adalah suatu studi yang berbeda sama sekali dengan ilmu kalam (teologi) meskipun tidak bertentangan.

"Ilmu Kalam" menurut Ibnu Khaldun, ialah suatu disiplin yang mencakup cara beragumentasi dengan dalil-dalil logika atau dialektika dalam mempertahankan aqidah keimanan serta menolak pikiran-pikiran baru yang dalam arti dogma dianggap menyimpang dari keyakinan agama menurut ajaran salaf (ortodoks) dan kaum muslimin yang mula-mula. Intisari keimanan ialah tauhid - keesaan Tuhan. Tetapi, ia menambahkan, bahwa sekalipun dialektika itu memang baik, ia tak dapat melumpuhkan argumen-argumen pihak lawan. Dialektika tak dapat dipakai membuktikan kebenaran agama, karena agama berada di luar lingkup argumentasi logika. Dialektika sering mengerut menjadi tak lebih dari semacam permainan retorika dalam bentuknya yang paling rendah. Di samping itu Ilmu Kalam juga dipakai dalam perdebatan mengenai wujud Tuhan, tentang al-Qur'an, tentang hari kiamat dan lain-lain.

Dalam banyak hal Ibnu Khaldun tidak mengabaikan peranan intuisi di bidang intelektual. Dia senantiasa menasehati para pembacanya agar tidak terlalu percaya pada logika formal dalam mencari ide baru dan agar membiarkan kebenaran diilhamkan ke dalam fikiran mereka oleh Allah SWT sendiri. Dia mengklaim bahwa seluruh teorinya telah diilhami olel. Allah dalam waktu mengasingkan diri di tempat pengembaraannya. Seperti pernah dikatakannya sendiri Allah SWT telah mengungkapkannya kepada saya, tanpa mempelajari dari Aristoteles atau informasi lainnya dari seorang guru Persia Dia mengakui, bahwa ketika menulis karyanya, instuisi membangunkan dirinya dan menggiringnya agar mendalami satu disiplin ilmu. Karena itu mengingat demikian apiknya peran logika dalam kac-yanya dapat dianggap Ibnu Khaldun sebagai pencipta logika baru.

Pemikiran Ibnu Khaldun dalam pengertian luas adalah hasil proses perkembangan yang terus menerus dari filsafat dan pemikiran Islam. Menurut beberapa penulis Ibnu Khaldun adalah pengikut al-Ghazali. Menurut yang lainnya, Ibnu Khaldun adalah pengikut Ibnu Rusyd. Sementara yang lainnya lagi mengatakan Ibnu Khaldun pengikut al¬-Ghazali dan Ibnu Rusyd sekaligus. Dia mengambil dari al-Ghazali permusuhannya terhadap logika Aristoteles. Dan pada saat yang sama mengambil sikap baik Ibnu Rusyd terhadap massa. Dengan kombinasi yang unik dari dua corak pemikiran ini, ia membangun teorinya yang modern.

Al-Ghazali mengecam para fiiosof dengan seteliti mungkin dan sejujurnya. Di dalam "Tahafut al-Falasifah" ia menerangkan dua puluh masalah yang menjadi sorotannya. Tiga di antaranya dianggap amat serius yaitu masalah qadimnya alam semesta; pengetahuan Tuhan atas segalanya; dan kebangkitan pada hari kemudian.

Sebagaimana al-Ghazaii, Ibnu Khaldun menyerang filosof-filosof Hellenistik yang mencoba merekonsiliasi syari'at dan wahyu dengan rasio dan fiisafat. Argumennya adalah, bahwa keduanya berbeda jauh, karena itu berbeda pula daya-daya dan metode-metode yang diterapkan untuk menjelaskan keduanya. Dalam hal ini menurut Ibnu Khaldun, para filosof mencoba mempertemukan (reconsile) sesuatu yang tidak dapat dipertemukan (irreconciluble). Akal (reason) tidak akan pernah menjangkau kebenran- kebenaran spiritual , spiritual truths, karena kebenaran-kebenaran spiritual itu bukanlah objek, akalnya, sebagaimana halnya mata tidak mungkin menangkap suara, atau telinga tak mungkin menagkap cahaya. Semua kebenaran transedental berada di luar kemampuan akal. Kebenaran transedental hanya dapat diterima melalui kenabian, bukanlah melalu akal.

Didalam Muqaddimah, Ibnu Khaldun menerangkan keterbatasan akal. Ia mendiskusikan masalah-masalah filsafat serta beberapa teori ilmu pengetahuan yang dianggapnya mempunyai kelemahan, karena terlalu mengandalkan akal. Masih banyak masalah yang tak dapat dijangkau oleh akal. Yang tak dapat dijangkaunya itu bukan berarti tidak ada seperti soal-soal ketuhanan, Eskatologi, Kerohanian, wahyu dan kenabian.

Meskipun demikian, akal dalam pandangan Ibnu Khaldun ini memang lebih radikal dari para ahli fiqih. Akan tetapi ia memandang akal mempunyai daya yang tidak lebih besar dari wahyu. Dalam hal ini ia sejalan dengan al-Kindi, filosof muslim pertama, berpendapat agama dan filsafat membahas persoalan yang sama; sedangkan perbedaannya terletak pada sarana yang dipergunakannya. Filsafat memperoleh kebenaran melalui akal, sementara agama memperoleh kebenaran melalui wahyu yang diturunkan pada nabi. Keduanya menghasilkan dalil-dalil yang kuat.

Selanjutnya filosof muslim kedua, al-Farabi berpendapat hampir sama dengan al-Kindi. Bahwa kebenaran yang dibawa filsafat hakikatnya serupa, meskipun bentuknya berbeda. Menurut Harun Nasution, al-Farabilah filosofi pertama yang mengusahakan keharmonisan antara agama dan filsafat dengan memberikan tafsiran terhadap filsafat Aristoteles dan Plato sehingga sesuai dengan dasar Islam. Kemudian menafsirkan ajaran-ajaran Islam dengan pendekatan yang rasional.

Ibnu Rusyd menjelaskan penelitian akal tidak menimbulkan hal-hal yang bertentangan dengan apa yang dibawa agama, sebab kebenaran tidak bertentangan dengan kebenaran, tetapi sesuai dan saling memperkuat. Tampaknya dalam hal ini Ibnu Khaldun sepaham dengan Ibnu Rusyd yang ia sendiri membuat ikhtisar sebagian besar tulisan-tulisan Ibnu Rusyd. Menurut Ibnu Rusyd, filsafat itu benar dan Islam itu juga benar, dan kebenaran itu tak mungkin dapat dipisahkan dengan sesamanya. Tujuan agama yang utama ialah mengajak orang berbuat kebaikan. Untuk mencapai tujuan itu, agama menggunakan cara yang sebaik-baiknya, yaitu metafora dan perlambangan, tanpa detil dan argumen-argumen yang pelik. Sebaliknya filsafat, mengenal kebenaran sebagaimana adanya. Oleh karena itu, hukum agama ada yang lahir dan ada yang bathin, Yang lahir untuk mereka yang berpikiran sederhana, sedang yang batin untuk mereka yang jenius. Atas dasar itu, dalam masyarakat terdapat pula dua macam golongan: orang-orang awam atau orang-orang kebanyakan, orang-orang elit atau para filosuf.

Ibnu Rusyd mempertahankan tesisnya itu dengan menyebutkan, bahwa filsafat dan agama tidak bertentangan satu sama lain. Akan tetapi tujuan masing¬-masing berbeda, sebab pengertian kebenaran berbeda menurut filsafat dan agama. Untuk mencari pengertian itu adalah menjadi tugas filsafat bukan tugas agama. Agama begitu kita terima, tugasnya dan tugas kita telah selesai.Ia sudah ditampung oleh iman. Penerapan akal yang bertentangan dengan dogma, dogma harus ditafsirkan dalam arti perlambang. Ia harus ditafsirkan demikian hingga dapat diserapkan pada akal. Hanya para filosuf yang boleh menafsirkan dan tidak bolah dikomunikasikan kepada orang awam. Di sini terdapat perbedaan antara Ibnu Rusyd dengan al-Ghazali.

Dalam pandangan Ibnu Rusyid, al-Ghazali salah karena mencoba menyangkal filsafat, sementara ia menguraikan filsafat kepada umum dan membuat penemuan-penemuan itu dengan cara-caranya yang tak dapat dicema oleh umum. Masyarakat umum tak perlu tahu mengenai hubungan agama dan filsafat; sebab menyampaikan hal itu secara terang-terangan kepada mereka berarti mau menyampaikan penemuan-penemuan filsafat pula, yang sama sekali bukan urusan mereka. Agama punya jangkauan lebih besar, untuk semua, untuk golongan khawas dan golongan awam, sedang filsafat hanya terbatas pada golongan khawas

Pandangan Ibnu Rusyd ini dapat kita kaitkan pula dengan tanggapan Ibnu Khaldun yang juga mau membedakan tujuan ilmu dengan tujuan agama. Di atas segala-galanya, agama ialah undang-undang dan ketentuan hidup, bukan sekedar pengetahuan. Di sini Ibnu Khaldun mencela filsafat, yang oleh filosuf-filosuf Islam dicoba hendak dipertahankan untuk memahami kesemestaan, memahami universum (al-kulli).

Kalau kita membandingkan Ibnu Khaldun dengan Ibnu Rusyd, komentator Artistoteles terbesar itu sebenarnya karya-karya yang belakangan ini termasuk komentatornya tentang Aristoteles, menurut pengamatan De Boer, hampir tidak punya pengaruh apa-apa dalam pemikiran Islam.

Ibnu Khaldun sejalan dengan al-Ghazali, yang keduanya sangat kuat mempertahankan, bahwa untuk memahami kodrat realitas tertinggi (the ultimate) bukan dengan akal pikiran saja, tetapi harus dengan pengalaman religius. Atas dasar itu, Ibnu Khaldun bertentangan dengan Ibnu Rusyd yang cenderung berspekulasi dan di bagian lain ia sependapat, bahwa filsafat pun terbatas kemampuannya. Kalaupun dengan al-Ghazali ia mempunyai persamaan, yakni sikap yang kritis terhadap filsafat, tetapi di bagian lain - misalnya tentang tasawuf - mereka saling bertolak belakang.Ia mengecam beberapa aliran tasawwuf yang mengajarkan hidup terisolasi dan sering misteri.

Al-Ghazali terkenal dengan mempertahankan tasawuf dan menentang filsafat, sedangkan Ibnu Khaldun menguraikan tasawuf itu hanya dari segi ilmiyah saja tanpa menunjukkan sikap suka atau tidak suka.

"Hanya Ibnu Khaldunlah yang memasuki tasawuf dengan sepenuhnya berjiwa ilmiyah"

Tetapi Ibnu Khaldun sangat menghargai al-Gazali yang dinilainya sebagai orang yang paling berjasa mengem¬balikan tasawuf ke tempat yang semestinya. Dalam hal ini Ibnu Khaldun tidak pernah mengeritik tasawuf yang dikembangkan al-Ghazali.

Dari kenyataan tersebut, dapat ditegaskan, bahwa Ibnu Khaldun adalah seorang pemikir besar dan ilmuwan yang kritis dan objektif, rasional tetapi juga agamawan yang taat, dilandasi oleh iman yang kuat dengan penuh kesadaran. Suatu kehidupan yang berimbang dalam dirinya, dalam menghayati agama dan ilmu.

Karena itu Ibnu Khaldun berbeda dengan Machiavelli yang menolak sama sekali idealisme dan menerima realisme, sedangkan Ibnu Khaldun menganggap kedua-duanya sama penting. Bagi Ibnu Khaldun, apa yang harus terjadi sama sebenarnya dengan yang ada, namun keduanya harus dipisahkan, masing-masing harus didudukkan proporsional. Ibnu Khaldun mempunyai pandangan yang realis terhadap realitas sensual, tetapi ia mempunyai pandangan yang idealis terhadap realitas transendental. Ilmu tidak mampu memberikan gambaran yang tepat tentang hakikat yang ada di luar akal. Karena itu ia, berbeda tentang hakikat yang ada di luar akal. Karena itu ia, berbeda dengan Machiavelli yang meremehkan sesuatu yang ideal dan yang religius.

Kenyataannya ia mengaku dirinya sebagai seorang yang `alim. Ibnu Khaldun menyerang pemikir-pemikir idealis, karena mereka melupakan masa kini dan mencurahkan perhatian kepada masa lalu (Nabi) dan masa depan Mahdi (harapan kepada semacam Ratu Adil). Karena itu Ibnu Khaldun adalah penulis pertama yang meolak al-Mahdi.

Untuk merekonsiliasi ideal lama dengan real yang ada kini, masyarakat biasanya terpaksa mengacu kepada doktrin masa depan atau harapan ratu adil. Kaum muslimin yang merasakan kesenjangan antara prinsip-prinsip ideal Nabi Muhammad dan kondisi aktual kehidupan religio-politik senantiasa menunggu kedatangan al-Mahdi, yang menurut mereka dapat menyatukan kembali antara yang ideal dan yang real. Karena itu Ibnu Khaldun, di dalam Muqaddimah, membangun logika yang realistis tersebut. Sebelumnya, semua ahli dalam menangkap kebenaran, mereka membentengi diri dengan mendasari kesimpulannya pada logika Aristoteles.

Hal demikian tampak, bahwa di Afrika Utara logika lama telah mulai diakui tidak efisien untuk menelaah kebenaran mutlak. Ibnu Khaldun memang tidak terlalu memperhatikan kebenaran dalam arti metafisis dan religius, karena ini hanya dapat ditemukan oleh para Nabi. Akan tetapi Ibnu Khaldun tidak mengabaikan kenyataan, bahwa logika memang
bermanfaat, yang dengannya membantu kita mampu menemukan argumentasi yang teratur; tetapi logika tradisional itu hanya piranti untuk menyerang clan bertahan yang bermanfaat di tangan dua kelompok yang saling bertentangan. Dengan menulis Muqaddimah, ia terutama bermaksud mengembangkan suatu bentuk logika yang realistis. Dia memang pernah mengikuti pola pikir berdasarkan logika Aristoteles yang menyebabkan tidak mampu mengembangkan ilmu yang bersifat inovatif. Meskipun sifat pemikiran Ibnu Khaldun sangat bersifat inovatif, akan tetapi ia tetap merupakan hasil dari serangkaian gerakan Islam yang panjang.

Di samping itu gaya pikir Ibnu Khaldun tidak bisa dipisahkan dari berpikir ilmu sosialnya. I1mu-ilmu sosial biasanya dikonstruksi atas dasar yang relativis-temporalistik, telah lama diketemukan dan hingga kini terus melandasi pemikiran para ahlinya. Gaya pikir ini mempengaruhi juga pemikirannya dalam bidang pendidikan.Ia mencoba menjelaskan kecerdasan, belajar dan mengajar berdasarkan pemahaman yang materialistik.

Pandangan Filsafat Pendidikan Islam Menurut Ibn Khaldun

Ibn Khaldun secara luas dikenal sebagai peletak batu pertama alias pelopor dan sekaligus bapak ilmu sosiologi dan sejarah sains. Dan ia lebih dikenal lagi karena buku Muqaddimah-nya atau di Barat sana dikenal dengan 'Prolegomena'.

Ibn Khaldun sebenarnya punya nama asli Abdullah al Rahman Ibn Muhammad. Lahir di Tunisia dari keluarga kelas bangsawan di tahun 723 Hijriah atau tahun 1332 SM. Keluarganya sendiri bukan berasal dari Tunisia, mereka hijrah ke Tunisia dari Seville, wilayah Spanyol yang berpenduduk Islam.

Ibn Khaldun banyak belajar di Tunisia dan Fez, ia mempelajari Qur'an, Hadits, cabang-cabang ilmu Islam lainnya seperti ilmu teologi dialektikal dan hukum-hukum Islam. Dengan semangat belajar dan keingintahuannya yang besar, ia juga mempelajari matematika, astronomi, filosofi dan literatur Arab. Ini yang menjadikannya dalam usia belasan sudah bekerja pada Sultan Barquq, seorang Kaisar di Mesir.

Sebelum dikenal sebagai penulis buku yang kelak menjadi adi karya dalam sejarah dunia, Ibn Khaldun banyak menghabiskan waktu, tenaga dan kepandaiannya bergelut dengan dunia politik praktis. Ia bekerja untuk pemerintah Tunisia dan Fez (Maroko), Granada (Islam Spayol) dan Biaja (di Afrika Utara). Tahun 1375 ia mengasingkan diri ke Granada, Spanyol, dari Afrika Utara karena melarikan diri dari Turmoil di Afrika Utara.

Sayangnya, karena kegiatan politiknya di masa lalu, pemerintah Granada menolaknya. Ibn Khaldun kemudian menuju Aljazair. Selama empat tahun ia tinggal di sebuah desa kecil bernama Qalat Ibnu Salama. Di sana pula ia mulai menulis Muqaddimah. Karya ini kelak menempatkan namanya di antara nama-nama besar sejarawan, sosiolog dan filosof dunia.
Muqaddimah telah membuat intelektual dunia dulu dan kini, di Timur dan Barat geleng-geleng kepala dibuatnya. Hasil pemikirannya yang sangat cemerlang, ditulisnya dalam buku itu. Bagian pertama bukunya, Al 'Ibar, sangat tajam, rasional dan analitik meninjau masalah-masalah manusia dan sejarah.

Pada buku inilah Ibnu Khaldun, menurut banyak intelektual dunia, telah memberi arah pada ilmu-ilmu psikologi, ekonomi, lingkungan hidup dan sosial. Beliau juga menganalisa hubungan dinamis dan menggambarkan perasan-perasaan antar manusia. Al 'Asabiyya, memberi pandangan baru pada kekuatan penduduk dan politik.

Ibnu Khaldun selain terkenal sebagai penulis sejarah dan manusia, dikenal juga sebagai seorang kritikus sejarah yang disegani. Ia pula yang mengenalkan ilmu analisa tentang peradaban manusia. Tak hanya itu faktor-faktor yang mendukung ilmu analisa ia kenalkan pula.

Karena hal in pula ia menemukan ilmu-ilmu baru yang berkaitan dengan perdaban manusia. Misalnya, ilmu pembangunan sosial yang saat ini biasa kita sebut dengan ilmu sosiologi.

Ada satu satu pernyataan atau argumen Ibnu Khaldun yang sampai saat ini masih dibuat pijakan banyak ilmuwan. "Sejarah ada subyek menuju hukum-hukum universal," begitu katanya. Ini adalah satu contoh bagaimana Ibnu Khaldun dijadikan rujukan dunia sosiologi internasional.

Pemikiran-pemikiran Ibnu Khaldun saat itu sebenarnya sudah sangat maju, misalnya saja ia berpendapat bahwa kehidupan beragama adalah satu hal pokok yang mampu menyatukan jazirah Arab saat itu. Tahu sendiri kan, berapa banyak suku dan bani yang ada di sana. Apalagi tipikal orang padang pasir kan panas-panas bawaannya.

Tak hanya itu, Ibnu Khaldun pun jauh hari sudah menyimpulkan beberapa penyebab kehancuran sebuah negara atau pemerintahan. "Ketidakadilan, kekecewaan rakyat dan tirani adalah langkah awal kehancuran sebuah negara," begitu katanya. Dan saat ini banyak contoh yang bisa kita lihat betapa tiga hal yang disebutkan Ibnu Khaldun berabad-abad lalu benar adanya.

Selain sebagai sejarawan dan sosiolog, Ibnu Khaldun dikenal pula sebagai seorang pioneer atau perintis pendidikan modern. Ia seorang yang sangat percaya pada kekuatan akal bukan kekuatan fisik. Menurutnya kekuatan fisik hanya membuat seseorang menjadi malas, hipokrit dan pembohong besar.

Ibnu Khaldun hidup di Mesir pada zaman Mesir sedang mengalami kemerosotan. Pendidikannya anjlok, moralnya bobrok dan sebagian besar masyarakat tidak merasa perlu belajar dan berhati-hati. Ini yang membuat Ibnu Khaldun banyak menghabiskan waktu mengumpulkan data, mengingatkan orang tentang pentingnya peradaban.

Pemikiran dan analisa Ibnu Khaldun, kelak banyak memberikan warna dan pengaruh pada dunia ilmu sosial, politik, sejarah, filosofi dan pendidikan. Kini berabad-abad setelah ia wafat, pemikirannya yang cemerlang serta idenya yang brilian masih bisa kita rasakan. Satu hal yang menjadikannya seperti itu, ia belajar Islam dengan benar.

Ibn Khaldun secara luas dikenal sebagai peletak batu pertama alias pelopor dan sekaligus bapak ilmu sosiologi dan sejarah sains. Dan ia lebih dikenal lagi karena buku Muqaddimah-nya atau di Barat sana dikenal dengan 'Prolegomena'.

Ibn Khaldun sebenarnya punya nama asli Abdullah al Rahman Ibn Muhammad. Lahir di Tunisia dari keluarga kelas bangsawan di tahun 723 Hijriah atau tahun 1332 SM. Keluarganya sendiri bukan berasal dari Tunisia, mereka hijrah ke Tunisia dari Seville, wilayah Spanyol yang berpenduduk Islam.

Ibn Khaldun banyak belajar di Tunisia dan Fez, ia mempelajari Qur'an, Hadits, cabang-cabang ilmu Islam lainnya seperti ilmu teologi dialektikal dan hukum-hukum Islam. Dengan semangat belajar dan keingintahuannya yang besar, ia juga mempelajari matematika, astronomi, filosofi dan literatur Arab. Ini yang menjadikannya dalam usia belasan sudah bekerja pada Sultan Barquq, seorang Kaisar di Mesir.

Sebelum dikenal sebagai penulis buku yang kelak menjadi adi karya dalam sejarah dunia, Ibn Khaldun banyak menghabiskan waktu, tenaga dan kepandaiannya bergelut dengan dunia politik praktis. Ia bekerja untuk pemerintah Tunisia dan Fez (Maroko), Granada (Islam Spayol) dan Biaja (di Afrika Utara). Tahun 1375 ia mengasingkan diri ke Granada, Spanyol, dari Afrika Utara karena melarikan diri dari Turmoil di Afrika Utara.

Sayangnya, karena kegiatan politiknya di masa lalu, pemerintah Granada menolaknya. Ibn Khaldun kemudian menuju Aljazair. Selama empat tahun ia tinggal di sebuah desa kecil bernama Qalat Ibnu Salama. Di sana pula ia mulai menulis Muqaddimah. Karya ini kelak menempatkan namanya di antara nama-nama besar sejarawan, sosiolog dan filosof dunia.
Muqaddimah telah membuat intelektual dunia dulu dan kini, di Timur dan Barat geleng-geleng kepala dibuatnya. Hasil pemikirannya yang sangat cemerlang, ditulisnya dalam buku itu. Bagian pertama bukunya, Al 'Ibar, sangat tajam, rasional dan analitik meninjau masalah-masalah manusia dan sejarah.

Pada buku inilah Ibnu Khaldun, menurut banyak intelektual dunia, telah memberi arah pada ilmu-ilmu psikologi, ekonomi, lingkungan hidup dan sosial. Beliau juga menganalisa hubungan dinamis dan menggambarkan perasan-perasaan antar manusia. Al 'Asabiyya, memberi pandangan baru pada kekuatan penduduk dan politik.

Ibnu Khaldun selain terkenal sebagai penulis sejarah dan manusia, dikenal juga sebagai seorang kritikus sejarah yang disegani. Ia pula yang mengenalkan ilmu analisa tentang peradaban manusia. Tak hanya itu faktor-faktor yang mendukung ilmu analisa ia kenalkan pula.

Karena hal in pula ia menemukan ilmu-ilmu baru yang berkaitan dengan perdaban manusia. Misalnya, ilmu pembangunan sosial yang saat ini biasa kita sebut dengan ilmu sosiologi.

Ada satu satu pernyataan atau argumen Ibnu Khaldun yang sampai saat ini masih dibuat pijakan banyak ilmuwan. "Sejarah ada subyek menuju hukum-hukum universal," begitu katanya. Ini adalah satu contoh bagaimana Ibnu Khaldun dijadikan rujukan dunia sosiologi internasional.

Pemikiran-pemikiran Ibnu Khaldun saat itu sebenarnya sudah sangat maju, misalnya saja ia berpendapat bahwa kehidupan beragama adalah satu hal pokok yang mampu menyatukan jazirah Arab saat itu. Tahu sendiri kan, berapa banyak suku dan bani yang ada di sana. Apalagi tipikal orang padang pasir kan panas-panas bawaannya.

Tak hanya itu, Ibnu Khaldun pun jauh hari sudah menyimpulkan beberapa penyebab kehancuran sebuah negara atau pemerintahan. "Ketidakadilan, kekecewaan rakyat dan tirani adalah langkah awal kehancuran sebuah negara," begitu katanya. Dan saat ini banyak contoh yang bisa kita lihat betapa tiga hal yang disebutkan Ibnu Khaldun berabad-abad lalu benar adanya.

Selain sebagai sejarawan dan sosiolog, Ibnu Khaldun dikenal pula sebagai seorang pioneer atau perintis pendidikan modern. Ia seorang yang sangat percaya pada kekuatan akal bukan kekuatan fisik. Menurutnya kekuatan fisik hanya membuat seseorang menjadi malas, hipokrit dan pembohong besar.

Ibnu Khaldun hidup di Mesir pada zaman Mesir sedang mengalami kemerosotan. Pendidikannya anjlok, moralnya bobrok dan sebagian besar masyarakat tidak merasa perlu belajar dan berhati-hati. Ini yang membuat Ibnu Khaldun banyak menghabiskan waktu mengumpulkan data, mengingatkan orang tentang pentingnya peradaban.

Pemikiran dan analisa Ibnu Khaldun, kelak banyak memberikan warna dan pengaruh pada dunia ilmu sosial, politik, sejarah, filosofi dan pendidikan. Kini berabad-abad setelah ia wafat, pemikirannya yang cemerlang serta idenya yang brilian masih bisa kita rasakan. Satu hal yang menjadikannya seperti itu, ia belajar Islam dengan benar.

Pemikiran Pendidikan Islam Ibnu Khaldun
Betapapun ia lebih mencurahkan perhatiannya pada sosiologi, akan tetapi ia secara khusus menyelidiki dengan cermat tentang pendidikan. Karena itu di bawah sorotan metodologi ilmu sosial ia memandang pendidikan sebagai bagian dari gejala sosial.

Dalam hal ini Ibnu Khaldun, berbeda dengan Marx (1864-1920). Marx tidak begitu langsung mencurahkan perhatiannya kepada masalah pendidikan. Ibnu Khaldun sejalan dengan Durkheim (1858-1917), yang sepanjang karir memusatkan perhatiannya pada mengajar dan secara teratur berceramah tentang pendidikan. Kenyataannya ia termasuk seorang yang ahli dan menggeluti langsung sebagai pendidik. Bertahun¬ tahun ia melibatkan diri dalam majlis ilmu pengetahuan, mengajar serta tekun mengadakan halaqah (sorogan) di berbagai tempat, Tunisia, Andalusia dan Aljazair. Bahkan ketika menetap di Mesir, tradisi pengajaran halaqah mendapat sambutan luas di sana.Ia juga secara formal memberi kuliah di Universitas al-Azhar dan beberapa Universitas lainnya di Mesir.

Melalui pengalamannya yang luas, serta observasi yang jeli terhadap fakta empirik, ia menkonstruksi banyak teori yang berkenaan dengan belajar yang ia tuangkan dalam Muqaddimah. Dalam memandang masalah-masalah belajar sudah barang tentu, gagasan-gagasannya berasal dari hasil pemikiran dalam kapasitasnya sebagai seorang sosiolog. Karena itu, belajar dalam perspektif sosiologis ini, bermakna upaya memperoleh suatu kepandaian, pengertian dan kaedah-kaedah baru.

Setiap saat dalam kehidupan terjadi suatu aktivitas yang disebut belajar.Seluruh kebudayaan - sebagai konsekuensi logis dari aktivitas manusia - merupakan suatu psoses belajar yang besar dan luas. Kebudayaan sebagai proses belajar, menghasilkan bentuk-bentuk baru dan menimbun (akumulasi) pengetahuan dan keahlian (ketrampilan). Dalam seni arsitektur, misalnya, manusia terus menerus berusaha menemukan ekpsresi baru dan appresiasi yang lebih up to date.

Di bawah kerangka teoretik itulah dapat ditelusuri pemikiran Ibnu Khaldun di bidang pendidikan ini dalam karyanya Muqaddimah. Sesuai dengan karakteristik teori-teori klasik, Konstruk teoretiknya ia bangun berdasarkan pemikiran filosofik. Atas dasar itu pemikirannya tentang pendidikan cenderung bersifat global, menyeluruh, tetapi mendasar.Ia memperkuat daya konfirmatifnya dengan argumentasi logik berdasar fakta yang realistik.

Ciri umum pemikiran pendidikan Ibnu Khaldun sebagaimana diterangkan di atas tidak terlepas dari corak pemikiran penddikan pada zaman sebelum hingga masanya. Perkembangan pemikiran pendidikan hingga masa Ibnu Khaldun telah melalui berbagai perubahan di mana unsur-unsur budaya dominan di berbagai negara meresponsnya sebagai suatu kebutuhan.

Filsafat dan pemikiran pendidikan Islam cepat membuat respons bagi semua perubahan dan perkembangan itu. Filsafat dan pemikiran tersebut selalu merupakan akibat dari dua hal: Ideologi Islam seperti digambarkan oleh al-Qur'an dan sunnah; dan realitas baru yang muncul di dunia Islam. Realitas baru itu di bawah naungan ideologi Islam memperoleh makna baru yang bertransformasi untuk menjadikan unsur-unsur budayanya yang baru itu pada akhirnya menjadi warna Islam.

Sejak zaman Rasul, pemikiran pendidikan tidak muncul sebagai pemikiran pemikiran pendidikan yang terputus hubungannya dengan masyarakat, tetapi sebagai pemikiran yang hidup dan dinamis, berada dalam kerangka paradigma umum bagi masyarakat, tetapi sebagai pemikiran yang hidup dan dinamis, berada dalam kerangka paradigma umum bagi masyarakat yang dikehendaki oleh Islam. Pemikiran pendidikan serupa berlangsung hingga masa Umayyah Damaskus.

Suatu babak baru pemikiran pendidikan Islam dimulai pada zaman Abbasiyah. Zaman ini merupakan zaman keterbukaan terhadap ragam budaya dan peradaban asing seluas-luasnya. Sejak pertemuan antara pemikiran pendidikan Islam dan Yunani, timbullah bermacam-macam aliran yang memantulkan perkawinan pemikiran asli dengan pemikiran asing.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar