Sabtu, 13 Februari 2010

Bertutur Kata Baik

BERTUTUR KATA YANG BAIK.
Ridjaluddin.F.N.
Bertutur kata baik pada setiap orang, tidak menyakiti hati dan berlaku ramah bukanlah pekerjaan yang mudah, sampai-sampai Rasulullah Saw mengatakan lebih baik diam dari pada tidak berprilaku seperti itu . Abu Sofyan Ats-Tsaqafi berkata,

"Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku tentang satu hal yang bisa kupakai sebagai upaya menjaga diri, Nabi menjawab : "Katakanlah aku telah beriman dan beristiqamahlah". Iman, istiqamah, dan menjaga lidah agar senantiasa berbicara yang baik atau berdiam dari membicarakan yang buruk adalah sesuatu yang banyak mendorong manusia masuk surga.

Uqbah bin Amir berkata:"Wahai Rasulullah, apakah sesuatu yang paling banyak memasukan orang ke neraka?" jawab Nabi, "Mulut dan kemaluan. "Lalu ia bertanya lagi,"apakah jalan keselamatan hidup?" Jawab Nabi, "Tahanlah lidahmu, perluaslah rumahmu, dan tangisilah kesalahanmu". Umar bin Khatab pernah melihat Abu Bakar Ash-Shiddiqi sedang menarik lidahnya dengan tangan.

"Apa yang akan kau perbuat wahai manusia yang akan menyeretku ke dalam kehancuran.Sesungguhnya Nabi Muhammad Rasulullah bersabda bahwa satu-satunya anggota tubuh manusia yang akan diadukan kepada Allah pada hari kiamat nanti adalah lidah karena ketajamannya. "(HR.Ibnu Abid Dunya dan Daraquthni).

Benar,dihari kiamat nanti, semua yang keluar dari lidah akan diminta pertanggung jawaban oleh Allah Swt. Kebanyakan dosa anak Adam berangkat dari ucapan, pembicaraan atau kata-kata yang keluar dari lidahnya, maka dalam beberapa hadits Rasulullah menganjurkan agar kita lebih banyak diam.

"Maukah aku beritahukan kepada kalian yang paling mudah dan paling ringan bagi badan, yaitu diam dan akhlak yang baik, " kata Nabi. (HR.Ibnu Abi Dunya).

Bila kita teliti,pembicaraan orang dapat dikelompokan kedalam empat bagian: (1) pembicaraan yang sepenuhnya berbahaya, (2) pembicaraan yang sepenuhnya bermanfaat, (3) pembicaraan yang mengandung dan manfaat serta (4) pembicaraan yang tidak berbahaya dan tidak ada manfaatnya. Di sinilah kita harus dapat menempatkan lidah secara professional, kapan harus berbicara dan kapan harus diam, firman Allah menyebutkan :

مَّايَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

"Tiada suatu ucapan yang diucapkan melainkan didekatnya,ada malaikat pengawas (Atid) yang selalu hadir. "(QS Qaaf : 18)

Karena begitu pentingnya manjaga lidah, Rasulullah Saw mengaitkan kualitas imanku dengan seseorang menjaga lidahnya . Bahkan dari beberapa keterangan, kita mendapatkan kesan bahwa ibadah ritual tidak diterima oleh Allah, bila pelakunya tidak bisa menjaga lidahnya dan menyakiti hati tetangganya.

Disini tampak betapa shalat dan puasa menjadi tidak berarti karena pelakunya tidak menjaga lidahnya dan tidak bisa bertutur kata yang baik.Target shalat yang sempurna adalah menjadikan seseorang menjadi insan yang terhindar dari ungkapan-ungkapan yang tidak bermanfaat.Bila kita telusuri lebih jauh tentang lidah sebagai sarana dalam mengeluarkan kata-kata tidak terlepas dari jaringan-jaringan syaraf yang diciptakan Allah Swt,yang tatanan itu diperuntukan dalam berdzikir kepada-Nya. Allah tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Bait dengan bait dari kata yang dikeluarkan adalah dalam konteks dzikir kepada Allah. Menegur seseorang adalah kerangka teguran dzikir, bukan emosi apalagi marah. Menyapa seseorang dalam konteks dzikir bukan bentuk fitnah atau adu domba, senyum kepada sesama adalah ibadah.

Bertetangga akan rukun dan damai karena semua kata-kata yang terjalin adalah kalimat-kalimat dzikir kepada Allah, pimpinan dan bawahan, atau sebaliknya.Ajaran al-Qur'an tidak membenarkan ada kalimat atau kata-kata yang arogan, sombong, angkuh, fitnah atau adu domba. Sebaliknya yang dianjurkan adalah bertutur kata yang baik, menyejukkkan hati kerangka ibadah kepada Allah. Lidah tidak bertulang tetapi bisa tajam dari sebilah pedang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar